4 mnt baca (792 kata)
| |
TEKNOLOGI & IT 07 August 2026, 10:20 WIB

Awalnya Anti AI, Kini Guru di Tapanuli Ini Justru Mengajar Pakai AI

Sumber Resmi: DetikInet Teknologi
DevNetCUK Tech Digest
Awalnya Anti AI, Kini Guru di Tapanuli Ini Justru Mengajar Pakai AI
Awalnya Anti AI, Kini Guru di Tapanuli Ini Justru Mengajar Pakai AI
Iklan Sponsor / Advertisement
Ringkasan editorial DevNetCUK: bagian inti berita bersumber dari DetikInet Teknologi, lalu dilengkapi dengan konteks teknis dan rekomendasi langkah tindak lanjut untuk praktisi infrastruktur IT.

Seorang guru fisika di Tapanuli mengaku sempat enggan mempelajari AI karena menganggapnya hanya menjadi alat mencontek. Namun ia justru berubah pikiran.

Konten asli dari DetikInet Teknologi


Jakarta -

Di tengah kekhawatiran banyak guru terhadap penggunaan kecerdasan buatan (AI) di sekolah, Fajar Darojat justru mengalami perubahan pandangan yang cukup drastis. Guru fisika di SMAN 1 Matauli Pandan, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara itu mengaku sempat enggan mempelajari AI karena menganggap teknologi tersebut hanya menjadi alat untuk mencontek.

"Awalnya saya agak malas juga, ngapain alat contek saya pelajari. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, ini salah satu jalan untuk meningkatkan kapasitas diri. Apalagi diberikan secara gratis. Kenapa harus saya tolak mentah-mentah tanpa setidaknya mencoba dulu?" ujar Fajar saat berbagi pengalamannya di salah satu sesi media di AWS Summit Jakarta di Ritz Carlton, Pacific Place, Kamis (6/8/).

Keputusan untuk mencoba itulah yang ternyata mengubah cara pandangnya terhadap AI. Fajar adalah guru Fisika International Baccalaureate Diploma Programme (IBDP) di SMAN 1 Matauli Pandan, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, sekitar 250 kilometer dari Kota Medan. Ia menyebut, mengajar di daerah membuat akses terhadap pelatihan teknologi terbaru tidak semudah di kota-kota besar.

Kesempatan itu datang saat Amazon Web Services (AWS) bekerja sama dengan YPKBI menghadirkan program pelatihan AI generatif IndonesiapandAI bagi para guru. Menariknya, Fajar mengikuti pelatihan tersebut sambil menikmati waktu libur di Pulau Nias.

"Saya ikut pelatihannya sambil liburan di Nias. Saya sambil tiduran di hotel, tapi tetap mengikuti pelatihannya," katanya.

Setelah menyelesaikan pelatihan, Fajar seolah mendapat pencerahan. Pandangannya terhadap AI berubah. "Saya sadar AI memang bisa dimanfaatkan sebagai alat mencontek kalau kita lihat dari sisi negatif. Tapi kalau kita lihat dari sisi positifnya, AI bisa dimanfaatkan sebagai learning assistant," ujarnya.

Bikin Asisten Belajar Fisika

Sebagai bagian dari program tersebut, setiap peserta diminta membangun aplikasi berbasis AI menggunakan PartyRock, platform AI dari AWS. Fajar kemudian mengembangkan sebuah learning assistant untuk membantu siswa mempelajari fisika.

Aplikasi tersebut tidak hanya menjelaskan konsep dan rumus, tetapi juga menampilkan ilmuwan yang berperan dalam pengembangan teori, contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, referensi bacaan lanjutan, hingga soal latihan yang langsung memberikan umpan balik kepada siswa.

Karena mengajar di program internasional, Fajar juga melengkapi aplikasi tersebut dengan kemampuan mengevaluasi jawaban siswa dalam bahasa Inggris. "Tool tersebut sudah digunakan oleh peserta didik saya di kelas," katanya.

Menurut Fajar, pengalaman membangun aplikasi AI secara langsung jauh lebih berharga dibanding sekadar mempelajari teori. Melalui program tersebut, ia juga berhasil meraih sertifikasi AWS Certified AI Practitioner.

"Informasi yang saya dapat terkait AWS PartyRock ini benar-benar sangat bermanfaat. Terlepas saya mendapatkan sertifikat atau tidak, saya memang sudah merencanakan menggunakan ini di kelas," ujarnya.

Ia juga menilai materi sertifikasi tidak hanya berfokus pada produk AWS. "Sekitar 70% materinya berkaitan dengan pemahaman AI, sedangkan 30% tentang produk AWS. Jadi kalau memahami konsep AI, peluang untuk lulus juga besar," katanya.

Ingin Menularkan ke Guru Lain

Tak ingin berhenti di ruang kelasnya sendiri, Fajar berencana membagikan pengalaman tersebut kepada rekan-rekan guru lainnya di Tapanuli Tengah.

"Saya ingin menyebarkan tools ini dulu di lingkungan sekolah, karena saya sudah merasakan manfaatnya. Saya ingin guru-guru lain juga merasakan manfaatnya, dan siswa di kelas lain juga bisa menggunakannya," ujarnya.

Fajar mengaku pencapaian yang paling membanggakan bukanlah sertifikat yang berhasil diraih, melainkan keyakinan bahwa guru dari daerah juga mampu menguasai teknologi AI.

"Meraih sertifikasi AWS AI menunjukkan kepada saya bahwa seorang guru dari daerah pinggiran dapat mencapai standar yang sama dengan para profesional di bidang ini. Sekarang saya merasa percaya diri untuk mengajarkan AI kepada siswa dan rekan-rekan pendidik saya, karena saya tidak hanya membicarakannya. Saya sudah memanfaatkan dan berkembang bersamanya," kata Fajar.

Sementara itu, Head APJ Market Expansion & Strategic Partnerships AWS Yashinta Bahana mengatakan melalui program IndonesiapandAI, AWS ingin peserta tidak hanya belajar menggunakan AI, tetapi juga mampu membangun solusi yang dapat dimanfaatkan di dunia nyata.

Iklan Sponsor / Advertisement

"Kami ingin membangun para builders, bukan sekadar orang yang memakai AI. Karena itu peserta tidak hanya belajar, tetapi juga diminta membuat aplikasi menggunakan AI," ujar Yashinta.

Sejak 2017, AWS mencatat telah membantu lebih dari 1,3 juta masyarakat Indonesia mengembangkan keterampilan cloud dan AI melalui berbagai program pelatihan, sertifikasi, dan kolaborasi dengan institusi pendidikan.

Pesan Jenderal Hoegeng Iman Santoso, yang Dihadirkan Melalui Teknologi A.I


Tinjauan Infrastruktur IT — Redaksi DevNetCUK

BAGIAN INI BUKAN ISI BERITA ASLI DARI DetikInet Teknologi  |  Opini subyektif editorial untuk praktisi IT

Berita Awalnya Anti AI, Kini Guru di Tapanuli Ini Justru Mengajar Pakai AI yang dilaporkan oleh DetikInet Teknologi di sektor Teknologi & IT dapat menjadi momentum evaluasi untuk operasional IT di organisasi Anda.

Dari sisi infrastruktur, setiap berita industri sebaiknya ditelaah dari 3 aspek penilaian: apakah berdampak pada keamanan, apakah berdampak pada skala/kapasitas, dan apakah berdampak pada SLA layanan. Gunakan 3 kriteria ini untuk menyaring agenda prioritas mingguan tim IT.

Ingin mendalami topik sejenis melalui tutorial & lab hands-on? Kunjungi halaman Pusat Tutorial Jaringan & Infrastruktur IT, atau pelajari penawaran layanan profesional DevNetCUK di halaman Solusi Enterprise kami.

Atribusi Sumber & Rujukan Editorial:

Artikel DevNetCUK ini disadur dan diberi konteks berdasarkan materi publikasi dari DetikInet Teknologi. Atribusi dan tautan asli dipertahankan untuk memudahkan pembaca memverifikasi informasi langsung ke sumbernya.

Baca Versi Asli di DetikInet Teknologi →
Iklan Sponsor / Advertisement

Bagikan Artikel Ini

Bagikan wawasan teknologi infrastruktur IT ini kepada tim & rekan kerja Anda.

Berita Terkait Lainnya

Lihat Semua Berita →
Jadwal Semifinal GOTF Mobile Legends 2026: Onic Vs SRG
TEKNOLOGI & IT

Jadwal Semifinal GOTF Mobile Legends 2026: Onic Vs SRG

Babak semifinal turnamen Mobile Legends dalam acara Game of the Future (GOTF) 2026 digelar hari ini. Onic dan Bigetron by Vitality akan bermain.

Baca Selengkapnya →
Dokter Tifa: Hijrah dari Urusan Ijazah Jokowi Bukan Mundur!
INDUSTRI IT

Dokter Tifa: Hijrah dari Urusan Ijazah Jokowi Bukan Mundur!

Terdakwa perkara tudingan ijazah palsu Presiden Ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), Tifauzia Tyassuma alias dokter Tifa menyatakan hijrah dari urusan ijazah Jokowi. Sebenarnya dia sudah...

Baca Selengkapnya →
Rupiah Menguat 0,69% dalam Sepekan, Simak Prediksi Pekan Depan
INDUSTRI IT

Rupiah Menguat 0,69% dalam Sepekan, Simak Prediksi Pekan Depan

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat 0,69% dalam sepekan hingga ditutup pada level Rp17.897 per dolar AS pada Jumat (7/8/2026).

Baca Selengkapnya →