Jakarta — Indonesia punya RT yang jadi panutan tak cuma secara nasional, tapi sampai go international. RT 08 RW 04, Malaka Jaya, Duren Sawit, bahkan diberi award khusus dari China hingga Amerika Serikat.
International Board of Standards (IBS) melalui Board of Governors memberikan penghargaan Excellence Award (Award for Excellence in Environmental Management) kepada RT 08 karena dianggap sukses memenuhi standar praktik pengelolaan lingkungan lintas yuridiksi melalui aksi nyata.
"Indonesia ini hanya butuh sistem dari atap. Masalahnya bukan di pusat, di kita. Kalau rumah kita atapnya bagus, dindingnya kokoh, tapi fondasinya rapuh? Bangunan nggak akan kuat lama. Nah, fondasi itu adalah kita, RT," tutur Kepala RT 08 Malaka Jaya, Taufiq Supriadi kepada detikINET, Rabu (12/8/2026).
Taufiq punya banyak gelar. Lengkapnya adalah Dr. Dr. Taufiq Supriadi, SE, SH, Ak, CA, MT, CSFA, eMBA, CertDA, GRCE, CIISA, CLA, CFA, CCMP, CPCC, CIPHS, C.Med, CWM. Beliau adalah lulusan magister Teknik Geodesi Geomatika di Institut Teknologi Bandung dengan IPK 3,57. Dia juga menyandang gelar CPCC sebagai Certified Professional in Climate Change-CPPCCIBS dan CIPS itu Certified International Planetary Health Specialist.
Tak mau ilmunya sia-sia, Taufiq mencoba menerapkan ilmu yang dia miliki sembari merangkul warga RT 08 Malaka Jaya. Dampaknya luar biasa, hanya dalam waktu kurang dari tiga tahun, RT mereka berhasil mandiri dan dicontoh banyak negara.
Berikut ini adalah beberapa inovasi dari RT 08 RW 04 Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur, yang mendunia.
1. Nol Sampah Organik
Sudah sejak dua tahun lalu, RT 08 telah dahulu memilah sampah. Lebih cepat dari Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026 yang mewajibkan warga di DKI Jakarta memilah sampah dari sumbernya. Aturan ini diperketat per 1 Agustus 2026, ketika sistem pembuangan sampah terbuka di TPST Bantargebang resmi ditutup. Hanya sampah residu yang boleh dikirimkan ke sana.
Memang perlu adaptasi, tapi bukan berarti tak mungkin. Selama mau mendengarkan warga, solusi pasti akan ditemukan.
Taufiq percaya bahwa net zero dapat diwujudkan dari tingkat RT. Buktinya, sudah tidak ada lagi sampah organik yang keluar dari lingkungan RT-nya. Semuanya berhasil dimanfaatkan dan digunakan dalam bahan memanen maggot besar bernutrisi tinggi.
Maggot-maggot itu kemudian digunakan menjadi pakan ikan dan ayam yang diternakkan oleh RT 08. Setelah ikan dan ayam dipanen, sisa-sisa makanan seperti tulang hingga jeroan dipakai lagi untuk menjadi bahan membuat maggot.
"Kepala lele, daleman lelenya nggak dipakai. Semuanya kita ambil, masukin ke chopper. Kasih lagi ke maggot. Itu cepat gede," terang Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Rukun Warga dan Rukun Tetangga Indonesia (RAPI) itu.
Untuk sampah lainnya, RT 08 telah bekerja sama dengan Bank Sampah untuk mengelola sampah yang telah mereka pilah. Dengan demikian, masyarakat RT 08 telah sadar dengan tanggung jawab mereka terhadap sampah yang dihasilkan.
2. Ikan Gratis untuk Gizi Warga
Budidaya ikan lele dan gurame tak cuma ada di kaca akuarium yang dapat ditemukan di depan gapura RT 08 Malaka Jaya. Ketika ada di depan gang, ternyata terdapat saluran dengan sistem bertingkat (double decker) di bawah tanah, tanpa mengorbankan fungsi utama selokan.
Kolam ikan ini memanfaatkan beton berbentuk huruf U (U-Ditch) yang dimodifikasi menjadi dua fungsi ruang berbeda. Di lantai bawah, dimanfaatkan untuk saluran drainase, sementara lantai atasnya diisi air bersih untuk membudidayakan ikan.
Total, saluran sepanjang 42 meter di selokan digunakan Taufiq dan warga RT 08 untuk berternak lele dan gurame. Ada sekitar 500 ekor lele di selokan dan 35 ekor gurame (15 ekor di selokan, 20 ekor lagi di akuarium kaca).
Lele, gurame, serta nila yang dibudidaya, dapat dikonsumsi oleh warga, terutama untuk kelompok ibu hamil, lansia, dan balita. Mereka hanya perlu meminta ke pengurus, ikan pun akan diberikan.
RT 08 Malaka Jaya menyebutnya sebagai 'Kolam Gizi Warga'. Ikan-ikan tersebut biasanya dipanen setiap tiga bulan sekali.
3. Rainwater Harvesting (RWH)
"Saking kepinginnya kita memanfaatkan air hujan, dibuatlah ini," tunjuk Taufiq kepada sebuah gentong yang terhubung dengan pipa-pipa. Kini, tak ada lagi air hujan yang terbuang sia-sia.
Ketika ditanya, Taufiq mengatakan menggunakan air ini untuk menyiram tanaman di area RT 08. Selain itu, air digunakan untuk membersihkan feses dari kucing liar yang ada di lingkungan.
4. Biopori
Salah satu yang menjadi program utama ketika Taufiq mencalonkan diri menjadi ketua RT adalah pembangunan biopori. Jadi, lubang-lubang biopori dipasangkan di depan rumah masing-masing kepala keluarga dengan tujuan pengomposan sampah organik hingga mencegah genangan.
Lubang-lubang biopori tersebut ternyata juga efektif mengurangi populasi tikus tanah loh, detikers.
5. Digitalisasi lewat RTOnline dan Website
RT 08 punya aplikasi dan juga website untuk sarana informasi dan wadah transparansi. Aplikasinya bernama RTOnline.
Semua warga bisa memantau cashflow dari RT 08, termasuk sumber pemasukan hingga pengeluaran di RT mereka.
Di aplikasi RTOnline ataupun website https://rt08rw04malakajaya.com/, terdapat total penerimaan, total pengeluaran, saldo kas bulan ini, dana abadi, sampai total kas keseluruhan. Ada pula rincian donasi masuk dan penggunaannya.
"Di sini, warga bisa melihat transparan laporan keuangan kita, warganya ada berapa. Kemudian kita bantu validasi data bansos," ujar Taufiq.
Selain itu, terdapat fitur lain yang menarik bagi warga. Misalnya, mereka dapat mengawasi CCTV yang ada di beberapa titik di RT mereka. Pak RT pun bisa dengan siaga memberikan pengumuman, yang disambungkan ke speaker di gang RT, ketika melihat hal yang mencurigakan.
"Kita ada CCTV di 16 titik, ada juga di handphone para warga bisa pantau. Ada speaker toa. Jadi kalau ada orang berbaju hitam mencurigakan, saya hidupin mikrofon, "Ting-tong-ting-tong, Bapak yang berbaju hitam, tolong bergeser dari posisi Anda sekarang", bapaknya pergi. Pernah kejadian," katanya.
6. Listrik mandiri
Lewat bantuan dana dari CSR perusahaan, RT 08 berhasil memiliki panel surya sendiri di atas rumah warga. Hasilnya, sebanyak 10.000 watt listrik tercipta dan dimanfaatkan untuk mengairi gang-gang RT 08.
Listrik dari PLTS ini digunakan untuk menyalakan pompa kolam ikan, sehingga sirkulator oksigen kolam gizi lele di sepanjang selokan warga tetap terjaga. Listrik tersebut dipakai pula untuk penerangan jalan umum dan menjalankan mesin pencacah sampah yang dikhususkan menghasilkan bahan alas kandang ayam petelur warga.
7. Ayam yang kandangnya tidak bau
Selain ikan, para kelompok prioritas di RT 08 mampu mendapatkan telur ayam gratis. Ayam yang ada di kandang adalah ayam petelur jenis Lohmann Brown.
"Ayamnya bertelur setiap 25 jam sekali. Telurnya kita makan. Di belakang ada 15 ayam, di atas 3 ayam, di RW depan saya kasih 100," akunya.
Yang menarik, kandang ayam ini benar-benar tidak bau. Semua karena alas kandang yang dirancang sedemikian oleh Taufiq. Alas kandang ini menggunakan cacahan daun dan sisa sampah organik. Saat detikINET melihat ke kandang langsung, terdapat nasi bekas yang ada di bawah.
Adapun rahasia membuat kandang ayam bebas bau dipengaruhi oleh beberapa faktor.
"Tempat terbuka, ada lorong, angin bagus, kami belajar bagaimana memelihara ayam agar nggak bau di tempat. Kemudian ada mesin pencacah untuk menghancurkan sampah daun yang dicampurkan ke komposting alas kandang ayam. Kuncinya di alas kandang ayam," tandasnya.