
Jakarta, CNBC Indonesia - China mulai membalas serangkaian pembatasan teknologi yang dilakukan Amerika Serikat. Namun, Washington tidak sedikitpun melakukan pelonggaran. Mereka malah diperkirakan akan terus meningkatkan tekanan terhadap rantai pasok teknologi China.
Dalam beberapa bulan terakhir, lembaga yang selama ini lebih dikenal mengurus lelang spektrum dan perizinan stasiun televisi, yakni Federal Communications Commission (FCC), muncul sebagai ujung tombak kebijakan paling agresif pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap China.
Di bawah kepemimpinan Brendan Carr, sekutu Trump, FCC mengambil berbagai langkah untuk menekan apa yang dipandang AS sebagai risiko terhadap rantai pasok dan keamanan nasional.
Mengutip laporan Reuters, FCC melarang impor model baru drone, router, inverter, dan robot asal China. Lembaga itu juga memulai proses untuk memblokir seluruh laboratorium China dari pengujian perangkat elektronik seperti smartphone, kamera, dan komputer yang akan dipasarkan di AS.
Bahkan, FCC kini sedang menyusun aturan yang dapat melarang impor model baru komponen data center asal China. Langkah ini ditujukan untuk melindungi infrastruktur teknologi yang menopang ledakan industri kecerdasan buatan (AI) di Amerika.
Menurut pejabat AS, kebijakan tersebut mendapat dukungan Gedung Putih. Menariknya, FCC disebut berusaha menghindari konfrontasi langsung dengan Beijing dengan menyusun aturan yang menargetkan teknologi tertentu tanpa secara eksplisit menyebut China. Namun, strategi itu kini memicu respons dari Beijing.
Sebelumnya, pada Rabu lalu, China mengumumkan pengetatan kontrol ekspor drone dan teknologi yang ditujukan ke Amerika Serikat. Beijing juga menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan pengujian dan sertifikasi asal AS sebagai respons atas langkah FCC dan kebijakan perdagangan Washington lainnya.
Sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan pejabat China sempat berupaya menjalin komunikasi dengan FCC, tetapi upaya tersebut ditolak. FCC menolak berkomentar mengenai pendekatan dari pihak China, sementara Kedutaan Besar China di Washington tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.
Eskalasi ini terjadi menjelang rencana pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping pada September mendatang. Keduanya diperkirakan membahas upaya menstabilkan hubungan bilateral yang terguncang akibat perang tarif tahun lalu.
Meski biasanya ada tekanan untuk meredakan ketegangan menjelang pertemuan tingkat tinggi, para ahli keamanan nasional menilai tekanan AS terhadap China akan tetap berlanjut.
"Hanya karena China merespons bukan berarti semua ini tiba-tiba akan berhenti," kata Chris McGuire, mantan pejabat Gedung Putih era Presiden Joe Biden.
Ia menilai pemerintahan AS mulai frustasi karena Washington menganggap China tidak mematuhi kesepakatan-kesepakatan sebelumnya.
Kelanjutan perang tarif
Kementerian Perdagangan China tidak memberikan komentar kepada Reuters mengenai FCC. Sebelumnya, Beijing menentang langkah FCC dengan menyebut kebijakan tersebut bersifat diskriminatif terhadap perusahaan-perusahaan China dan berpotensi mengganggu rantai pasok global, serta berjanji akan mengambil tindakan balasan.
FCC dan Gedung Putih juga menolak berkomentar. Namun, seorang pejabat AS mengatakan langkah FCC tidak ditujukan kepada negara tertentu.
"Tindakan FCC belakangan ini bersifat global dan tidak menargetkan negara tertentu. Langkah-langkah ini dirancang untuk mendorong reindustrialisasi Amerika dan memastikan keamanan nasional kami," kata pejabat tersebut.
Langkah FCC justru berbeda dengan kebijakan Trump yang lebih luas terhadap China. Setelah perang tarif tahun lalu berakhir dengan gencatan yang rapuh, Trump mengambil beberapa langkah untuk meredakan ketegangan, termasuk melonggarkan pembatasan ekspor chip AI canggih ke China dan menunda persetujuan penjualan senjata senilai US$14 miliar ke Taiwan.
Pejabat dan analis AS menilai FCC menjadi cara Washington mempertahankan tekanan terhadap China tanpa merusak hubungan bilateral secara keseluruhan.
"Saya rasa tidak berlebihan jika mengatakan FCC telah menjadi pusat gravitasi tindakan kompetitif terhadap China pada masa pemerintahan Trump ini," kata Eric Sayers dari American Enterprise Institute.
[Gambas:Video CNBC]