Florida — Pemenang Python Challenge 2026 diumumkan oleh FWC (Florida Fish and Wildlife Conservation Commission). Pemburu bernama Tom Rahill menangkap, memindahkan, dan melakukan eutanasia manusiawi 96 piton Burma, hampir sepertiga total tangkapan acara ini yang berjumlah 280 ekor.
Terdapat 907 pemburu piton berpartisipasi tahun ini dari 10 hingga 19 Juli, mencakup peserta dari 30 negara. Rekor partisipasi tertinggi adalah 1.583 pemburu saat kontes pertama kali diadakan tahun 2013 selama sebulan penuh.
Dikutip detikINET dari NBC Miami, Senin (10/8/2026) Rahill memanfaatkan perluasan area perburuan yang mencakup Taman Nasional Everglades. Ia mengungkap seluruh 96 piton ditangkap di taman nasional tersebut.
Rahill mendapat hadiah utama senilai USD 10.000 (Rp 179 juta). Sementara seekor piton sepanjang 5 meter menjadi rekor tangkapan terpanjang, yang berhasil disingkirkan oleh pemburu Rahm Levinson sehingga berhak membawa USD 1.000.
28 Ribu Piton Disingkirkan
Sebagian pihak mengkritik perburuan piton ini sia-sia. Beberapa pengamat satwa mengatakan piton Burma yang hidup di kawasan ini populasinya sudah terlalu banyak. Saat ini diperkirakan ada 100.000 hingga 300.000 ekor predator puncak tersebut di Florida.
Namun ajang itu dinilai jauh lebih baik daripada tidak berbuat apa-apa. Piton telah menimbulkan kerusakan sangat besar terhadap satwa liar asli Florida Selatan. Reptil raksasa ini memangsa rusa, aligator, ular lain, kelinci, burung air, kucing hutan (bobcat), dan banyak lagi.
Sejak kontraktor perburuan piton swasta mulai dilibatkan tahun 2017, ada 19.000 piton berhasil disingkirkan. Sementara ajang FWC Challenge menyingkirkan 1.600 ekor sejak acara ini dimulai pada 2013, yang kemudian diubah menjadi acara tahunan berdurasi 10 hari sejak 2020.
Secara keseluruhan, diperkirakan 28.000 ular piton telah disingkirkan sejak 2000. Ular piton sendiri pertama kali terdeteksi di Everglades Florida pada 1979, yang diyakini dilepaskan kolektor ular eksotis.
"Menyingkirkan piton Burma dari ekosistem sangat krusial bagi kelangsungan hidup spesies asli yang menjadikan wilayah ini rumah. Python Challenge adalah cara luar biasa bagi publik untuk terlibat langsung melindungi Everglades. Tiap ular yang disingkirkan memberi dampak berarti" ujar FWC, Ron Bergeron.
Cara Menangkap Piton
Tim NBC 6 menghabiskan malam bersama pemburu piton veteran, Bayo Hernandez, di Everglades untuk melihat apa yang dibutuhkan demi bisa menemukan piton. Menjelang pukul 3 pagi, setelah menghabiskan sekitar delapan jam pencarian, kerasnya tantangan terlihat jelas.
"Butuh waktu berjam-jam melakukan ini," kata Hernandez sambil memindai kegelapan untuk mencari tanda pergerakan. Menurutnya, kesuksesan menuntut kesabaran, kegigihan, dan menempuh jarak yang sangat jauh.
"Medsos membuatnya terlihat sangat gampang. Jika Anda pikir gampang, datang dan coba sendiri. Datanglah ke sini. Habiskan berjam-jam. Berkendara bermil-mil jauhnya. Berhari-hari dan berbulan-bulan. Pekerjaan ini sangat berat," sebutnya.
Akhirnya, usahanya membuahkan hasil. "Kita berhasil. Kita menemukan seekor piton," seru Hernandez setelah melihat seekor ular sepanjang sekitar 2,1 meter.
Menemukan wujud piton sering kali merupakan bagian tersulit dari keseluruhan perburuan. Pemburu harus teliti mencari pola dan warna khas yang tampak kontras dari lanskap alam Everglades.
"Anda bisa saja mendapati cuaca yang sempurna, suhu ideal, atau kelembapan pas, dan semua faktor pendukung sejalan. Tapi pada akhirnya, Anda sangat mengandalkan keberuntungan," sebutnya.
Faktor keberuntungan terasa lebih vital tahun ini. Cuaca sangat kering Florida Selatan membuat piton makin sulit dilacak. "2026 sejauh ini adalah tahun terkering. Di tahun sebelumnya, selalu ada genangan sampai tepi daratan dan ular ini biasanya bepergian di atas air. Itu membuat mereka lebih mudah menampakkan diri di tepi," paparnya.