Jakarta — Meta tak main-main dalam upaya memberantas scammer di platform mereka. Sindikat besar penipu bahkan sudah berhasil ditangkap karena model AI mereka berhasil melacak sinyal kontekstual dan mengidentifikasi jaringan penipuan yang persisten.
"Tahun lalu, kami menghapus lebih dari 159 juta iklan penipuan. Kami menghilangkan hampir 11 juta akun yang mungkin terkait dengan jaringan penipuan kriminal," kata Ben Joe Vice President Meta Asia Pasific.
"Tahun ini, kami melakukan upaya lebih jauh dengan bekerja sama bersama Microsoft, Point Base, Departemen Kehakiman AS, kepolisian, serta berbagai instansi pemerintah dan pihak berwenang di banyak wilayah," sambungnya kepada rekan media di 'Virtual Briefing APAC Meta Business Updates 2026', Kamis (13/8/2026).
Akibatnya, lebih dari satu juta akun, halaman, dan grup yang terkait dengan penipuan dihapus Meta. Bahkan 63 individu dari sindikat penipuan besar telah ditangkap dan diamankan.
Fakta menarik lainnya, penurunan ads yang terindikasi scam sebagian besar tidak sampai harus dilaporkan oleh pengguna. Meta lebih dulu menurunkan 92% iklan penipuan yang melanggar kebijakan, bahkan sebelum pengguna melaporkannya.
Untuk menegaskan komitmennya, Meta menerapkan kebijakan tegas untuk memastikan bahwa 90% pendapatan iklan globalnya berasal dari entitas bisnis terverifikasi pada akhir tahun 2026. Dengan begitu, platformnya dapat dengan bangga menyebut mereka lingkungan aman bagi pengguna.
Meski platformnya menjamin keamanan pengguna, Meta tetap berupaya untuk memberikan edukasi kepada consumer. Salah satunya kampanye keamanan siber yang telah sampai kepada 300 juta pengguna. Kampanye tersebut mengingatkan pengguna akan pentingnya pass key dan two factor authentication.
"Jadi pada dasarnya, kami ingin mengedukasi masyarakat untuk mengunci pintu depan digital mereka sebelum ada orang yang masuk," terang Joe.