
Jakarta, CNBC Indonesia - Generasi milenial mungkin merasakan nostalgia saat mendengar kabar tentang rencana kebangkitan Myspace. Namun, para analis memberi peringatan bahwa platform media sosial yang pernah mendominasi ini menghadapi peluang yang cukup berat di tengah pasar yang sudah terlalu padat.
Terlebih, media sosial pada zaman sekarang didominasi oleh feed berbasis algoritma dan rentang perhatian pengguna yang semakin pendek. Pemiliknya, Tim dan Chris Vanderhook, yang juga merupakan pendiri Viant Technology, baru-baru ini tampil dalam film dokumenter berjudul "Myspace", yang disutradarai oleh Tommy Avalone. Dalam dokumenter tersebut, mereka mengisyaratkan akan melakukan "peluncuran kembali" setelah upaya sebelumnya pada 2013 gagal.
"Kami masih memiliki Myspace. Saat ini kami adalah penjaga merek Myspace, dan kami akan meluncurkan kembali Myspace. Kami hanya menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya," kata mereka dalam dokumenter tersebut, dikutip dari CNBC, Minggu (9/8/2026).
"Dan jika yang satu itu tidak berhasil, kami akan mencobanya lagi," sambungnya.
Sebagaimana diketahui, Myspace didirikan bersama pada 2003 oleh Tom Anderson dan Chris DeWolfe, kemudian diakuisisi oleh kakak beradik Vanderhook pada 2011. Platform ini dikenang karena tampilannya yang unik, profil yang dapat dikustomisasi, desain berkilauan, serta "teman pertama" semua orang, yaitu "Tom".
Pernah menjadi situs media sosial paling populer di dunia, dengan 115 juta pengunjung per bulan pada 2008, Myspace kemudian dengan cepat dikalahkan oleh Facebook dan berubah menjadi peninggalan era Y2K.
Kakak beradik Vanderhook mencoba "memodernisasi" platform tersebut dengan membangun "Myspace yang sepenuhnya baru". Kendati begitu, dengan kepemilikan yang terus berganti serta hilangnya pengiklan yang beralih ke Facebook, platform ini kesulitan bertahan.
"Ini benar-benar berubah menjadi rentetan kerugian," kata Tim Vanderhook dalam dokumenter tersebut.
"Kami kehilangan lebih dari $150 juta," tambah Chris Vanderhook.
Meski demikian, mereka tidak memberikan jadwal yang jelas mengenai kapan peluncuran kembali tersebut akan dilakukan.
Jika Myspace benar-benar diluncurkan kembali, platform ini akan memasuki era media sosial yang jauh lebih kompleks. Di era ini, pemain dominan seperti gram milik Meta, TikTok, Snapchat, YouTube, dan Reddit, antara lain, menghadapi gelombang tuntutan dan tekanan hukum, sekaligus meningkatnya kejenuhan masyarakat terhadap dunia digital.
"Antusiasme terhadap peluncuran kembali Myspace mencerminkan nostalgia terhadap masa yang lebih analog, ketika algoritma belum begitu dominan dalam kehidupan kita," kata Kate Winick, analis utama di Forrester, kepada CNBC.
"Kita melihat hal ini dalam berbagai langkah yang dilakukan merek maupun pengguna menuju pengalaman sosial yang lebih kecil dan privat, yang terasa tidak terlalu dibuat untuk algoritma dan lebih personal bagi masing-masing pengguna. Contohnya adalah ledakan pertumbuhan Substack dan komunitas privat di Discord," kata Winick.
Hal ini juga terjadi ketika semakin banyak generasi milenial dan Gen Z yang memilih mengurangi atau meninggalkan penggunaan media sosial karena masalah kesehatan mental yang memburuk serta kecanduan yang didorong oleh platform-platform dominan.
Sebagai gantinya, mereka mulai mencari kehidupan yang lebih offline, kembali menggunakan teknologi analog, serta merindukan era 1990-an dan awal 2000-an.
Dengan berbagai tantangan tersebut, keberhasilan Myspace akan bergantung pada sejumlah faktor penting, termasuk kemampuan menarik pengiklan, mempertahankan minat pengguna, serta menghindari lingkungan regulasi yang semakin rumit.
Di sisi lain, Myspace harus menyeimbangkan selera pengguna terhadap nostalgia dengan antarmuka yang bersih, kemudahan menemukan konten, serta konten berdurasi pendek yang kini telah menjadi ciri khas media sosial modern.
"Jika Myspace mengikuti pola tradisional, mereka hanyalah pemain terkecil di pasar. Namun, jika mereka terlalu mengandalkan Myspace versi lama, mereka akan kesulitan memenuhi ekspektasi generasi yang sudah terbiasa dengan pengalaman pengguna yang jauh lebih bersih dan sederhana," kata Winick.
Ia menjelaskan bahwa antarmuka media sosial era 2000-an relatif "membutuhkan banyak usaha", terutama bagi pengguna muda yang tumbuh dengan TikTok dan Instagram.
"Tidak mungkin orang yang benar-benar ingin menghabiskan lebih sedikit waktu di internet justru memutuskan untuk menghabiskan lebih banyak waktu online demi mendapatkan estetika 'offline'. Mereka harus menemukan keseimbangan yang sangat tepat," jelasnya.
Namun, berkat pengenalan merek yang sangat kuat, Myspace memiliki keunggulan dibandingkan banyak pemain kecil lainnya dan memiliki peluang yang cukup baik untuk sukses.
Hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan demografi yang tepat. Generasi yang masih mengingat platform ini dengan penuh nostalgia kini merupakan "orang dewasa paruh baya yang sibuk dengan karier dan keluarga", sehingga kemungkinan besar mereka tidak akan aktif membuat postingan di platform lain.
Oleh sebab itu, Winick bilang, Myspace harus membangun produk yang benar-benar berbeda dan memberikan perhatian besar untuk menarik Gen Z dan Gen Alpha.
"Salah satu alasan Myspace kalah dari Facebook bertahun-tahun lalu adalah kegagalannya menarik pengguna yang lebih tua. Salah satu hal yang memperkuat kesuksesan TikTok dari sisi bisnis adalah pertumbuhannya yang cepat di kalangan milenial dan kelompok usia yang lebih tua," katanya.
Dengan adanya berbagai regulasi yang sedang disiapkan untuk melarang atau membatasi penggunaan media sosial oleh remaja, Myspace harus menerapkan strategi yang juga mencakup pengguna yang lebih tua, kelompok yang juga merupakan konsumen utama dalam hal pengeluaran.
"Salah satu alasan Myspace kalah dari Facebook bertahun-tahun lalu adalah kegagalannya menarik pengguna yang lebih tua. Salah satu hal yang memperkuat kesuksesan TikTok dari sisi bisnis adalah pertumbuhannya yang cepat di kalangan milenial dan kelompok usia yang lebih tua," terangnya.
Bisakah Myspace Sukses dengan Komersialisasi dan Iklan?
Jamie MacEwan, Senior Research Analyst di Enders mengatakan, Myspace harus bekerja lebih keras untuk menarik pengiklan dibandingkan platform-platform besar yang sudah memiliki metrik kinerja yang terbukti.
"Pertanyaannya bagi Myspace bukanlah apakah mereka akan merebut pasar Facebook 20 tahun kemudian, melainkan apakah mereka bisa diluncurkan kembali sebagai platform iklan kecil dan tetap menghasilkan keuntungan," kata MacEwan.
Dirinya menjelaskan, Myspace harus menyeimbangkan investasi untuk pertumbuhan dengan tetap menjaga struktur perusahaan agar tetap ramping lantaran pendapatan pada platform berukuran menengah biasanya lebih rendah dan platform seperti ini lebih mudah diabaikan oleh pengiklan.
"UKM lebih mungkin mengeluarkan uang untuk platform yang sudah mereka gunakan dan memiliki kehadiran di sana."
Pada dasarnya, Myspace tidak harus menjadi platform terbesar untuk menghasilkan uang. Namun, platform ini harus mampu mendorong pengguna untuk membuat konten yang benar-benar menarik perhatian orang dan membuat mereka menghabiskan waktu untuk melihatnya, karena itulah cara menghasilkan pendapatan dari iklan.
Selain itu, Winick menambahkan bahwa sebagian besar bisnis akan menunggu untuk melihat apakah pelanggan mereka benar-benar aktif di sebuah platform media sosial sebelum mulai mengalokasikan anggaran untuk beriklan di sana.
"Adopsi platform baru sering kali menurun setelah lonjakan minat awal, contohnya Noplace, platform berbasis teks yang berfokus pada Gen Z dengan desain bergaya Myspace. Platform tersebut sempat menjadi aplikasi nomor satu di app store pada hari peluncurannya, tetapi kemudian menghilang dari daftar 'paling banyak diunduh' pada akhir hari berikutnya," jelasnya.
Bluesky, platform sosial open-source yang diluncurkan sebagai pesaing Twitter pada 2024, sempat mengalami ledakan popularitas ketika pengguna mencari alternatif dari platform milik Elon Musk tersebut.
Bluesky berhasil mendapatkan pendanaan Seri B sebesar $100 juta pada April 2025. Namun, menurut laporan, jumlah pengguna aktif harian melalui perangkat seluler turun 40% pada akhir Oktober dibandingkan 12 bulan sebelumnya.
Sementara itu, mantan pimpinan bidang engineering di Bluesky mengatakan bahwa jumlah pengguna aktif harian yang membuat postingan telah turun dari puncaknya, yaitu 1,4 juta pada akhir 2024, menjadi sekitar 600.000 pada Juni.
Contoh lainnya adalah aplikasi berbagi foto BeReal yang sempat populer dalam waktu singkat. Aplikasi tersebut mendapatkan momentum setelah pandemi, tetapi jumlah pengguna aktif bulanannya turun dari 20 juta pada puncaknya pada 2022 menjadi sekitar 16 juta, berdasarkan data SimilarWeb yang dibagikan kepada TechCrunch.
Menjual "Penawar"
MacEwan mencatat bahwa kesuksesan Myspace justru berasal dari kemampuannya membedakan diri dari platform-platform besar, termasuk dengan memanfaatkan meningkatnya kejenuhan terhadap feed yang berorientasi pada algoritma serta fitur desain yang mendorong kecanduan.
"Saya tidak serta-merta melihat peluncuran platform-platform kecil sebagai tantangan langsung terhadap jaringan yang sudah mapan," kata MacEwan.
"Ini lebih merupakan bentuk counter-programming-mengidentifikasi bagian di mana platform-platform besar sudah melangkah terlalu jauh dan kemudian mencoba menjual sesuatu sebagai penawar terhadap kelelahan pengguna," kata dia.
Meskipun strategi seperti ini jarang menghasilkan hal besar berikutnya dalam dunia teknologi, Myspace sebenarnya tidak harus bersaing langsung dengan platform-platform besar.
Sebaliknya, Myspace sebaiknya memprioritaskan keberlanjutan pertumbuhan pengguna dan tingkat keterlibatan mereka.
[Gambas:Video CNBC]