5 mnt baca (822 kata)
| |
TEKNOLOGI & IT 14 August 2026, 10:19 WIB

Prabowo Sebut Giant Sea Wall Wajib Dibangun, Pantura Terancam Tenggelam

Sumber Resmi: DetikInet Teknologi
DevNetCUK Tech Digest
Prabowo Sebut Giant Sea Wall Wajib Dibangun, Pantura Terancam Tenggelam
Prabowo Sebut Giant Sea Wall Wajib Dibangun, Pantura Terancam Tenggelam

Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan rencana pembangunan tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall untuk melindungi Pantura Jawa.

Iklan Sponsor / Advertisement

Jakarta — Pantai Utara Jawa atau Pantura menghadapi ancaman yang datang dari dua arah, permukaan laut yang terus meningkat dan daratan yang justru terus turun.

Kondisi tersebut membuat banjir rob semakin sulit dipandang sebagai persoalan musiman. Di sejumlah kawasan Pantura, ancaman terhadap permukiman, kawasan industri, pelabuhan, hingga aktivitas ekonomi semakin nyata.

Karena itu, Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan rencana pembangunan tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall (GSW) untuk melindungi Pantura Jawa.

"Kita juga harus membangun Giant Sea Wall, tanggul besar untuk mengamankan pantai utara Pulau Jawa. Ini mutlak harus kita lakukan," kata Prabowo dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI, Jumat (14/8/2026).

Menurut Prabowo, pembangunan tanggul tersebut tidak seharusnya menunggu bencana terjadi. "Jangan kita tunggu bencana datang, kita harus belajar dari negara lain," ujarnya.

Prabowo kemudian mencontohkan Belanda yang telah lama membangun infrastruktur perlindungan pesisir untuk menghadapi ancaman laut.

Ia ingin GSW Pantura menjadi 'sabuk perlindungan' bagi jutaan warga, sekaligus menyelamatkan puluhan ribu hektare wilayah yang disebutnya mulai tenggelam akibat kenaikan muka laut.

Tiga Masalah Pantura

Namun, persoalan Pantura sebenarnya lebih kompleks daripada sekadar air laut yang naik. Mengutip laman Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Pantura Jawa Tengah menghadapi tiga persoalan sekaligus, yakni abrasi, banjir rob, dan penurunan muka tanah. Dampaknya telah dirasakan permukiman, kawasan industri, pelabuhan, pertanian, dan perikanan.

Sementara itu, data Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana Kementerian Pekerjaan Umum menyebut penurunan muka tanah menjadi salah satu tantangan utama Pantura, dengan laju mencapai 10-20 sentimeter per tahun di sejumlah wilayah. Eksploitasi air tanah disebut sebagai salah satu penyebabnya.

Di sisi lain, kenaikan muka air laut membuat daratan yang sudah turun menjadi semakin rentan terhadap rob. Sederhananya, ketika tanah turun sementara laut naik, jarak vertikal antara permukaan daratan dan laut menjadi semakin kecil.

Air laut pun lebih mudah masuk ke daratan ketika terjadi pasang tinggi atau gelombang ekstrem. Inilah yang membuat ancaman Pantura tidak cukup dijelaskan hanya dengan istilah 'kenaikan muka laut', karena ada laut yang naik dan tanah yang turun.

Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan GSW Pantura tidak hanya dirancang sebagai tanggul untuk menahan air laut. "Giant Sea Wall kita di pantai utara Jawa harus menjadi infrastruktur air bersih, harus menjadi jalur pertumbuhan baru, dan proyek rekayasa yang membangun kemampuan anak bangsa," kata Prabowo.

Konsep tersebut sebenarnya sejalan dengan pendekatan pemerintah yang menginginkan perlindungan pesisir terintegrasi. Kementerian Pekerjaan Umum sebelumnya menekankan bahwa pengendalian banjir perlu diikuti penyediaan air bersih agar masyarakat tidak terus bergantung pada air tanah.

Pasalnya, pengambilan air tanah berlebihan dapat memperparah penurunan muka tanah. Artinya, membangun tembok di laut saja tidak menyelesaikan seluruh persoalan.

Jika daratan terus mengalami penurunan, tanggul harus menghadapi tekanan yang semakin besar. Karena itu, persoalan air tanah, drainase, kualitas lingkungan, dan tata ruang juga menjadi bagian dari pekerjaan rumah.

BRIN Siapkan Teknologi untuk Pantura

Pemerintah juga tidak hanya mengandalkan teknologi konstruksi konvensional. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan sejumlah teknologi untuk mendukung perlindungan Pantura. Salah satunya berupa tanggul tegak modular multifungsi dan blok modular beton yang tidak hanya dirancang sebagai pelindung pantai, tetapi juga dapat memiliki fungsi tambahan seperti penangkap energi gelombang dan jalur transportasi.

BRIN juga mengembangkan pendekatan hybrid eco-engineering, yakni menggabungkan struktur teknik dengan solusi berbasis alam. Pendekatan tersebut penting karena perlindungan pesisir tidak selalu harus mengandalkan struktur beton semata.

Iklan Sponsor / Advertisement

Teknologi lain yang disiapkan mencakup sistem breakwater modular serta teknologi yang memungkinkan infrastruktur pesisir memiliki fungsi tambahan. Dengan demikian, GSW berpotensi menjadi lebih dari sekadar tembok pemisah antara laut dan daratan.

Proyek Raksasa

Pembangunan GSW Pantura juga bukan proyek kecil. Rencana pembangunan GSW Pantura membentang sekitar 575 kilometer dan dibagi menjadi 15 segmen, dari Serang hingga Gresik.

Dalam perkembangannya, pemerintah menyebut proses pembangunan GSW sepanjang 575 kilometer telah berjalan sejak Maret 2026. Proyek tersebut ditargetkan dipercepat dari rencana awal 20 tahun menjadi 15 tahun, sementara groundbreaking direncanakan pada awal 2027.

Namun, panjang dan lamanya pembangunan justru menunjukkan tantangan proyek tersebut. Tanggul harus dirancang untuk menghadapi dinamika laut dalam jangka panjang, sementara kondisi setiap wilayah Pantura berbeda.

Ancaman abrasi, rob, penurunan muka tanah, kepadatan penduduk, aktivitas industri, pelabuhan, hingga ekosistem pesisir tidak bisa diperlakukan sama di sepanjang ratusan kilometer. Karena itu, membangun giant seawall bukan hanya persoalan membuat struktur yang tinggi dan kuat.

"Ini menyangkut hajat hidup puluhan juta rakyat kita yang hidup di Pantura. Dan kita harus ingat, berapa persen industri kita ada di kawasan-kawasan di pantai utara, mulai Jawa Barat sampai ke Jawa Timur. Jadi masa depan industri kita juga dipertaruhkan," sebut Prabowo.

Video AHY: Giant Sea Wall Proyek Besar Sekali, Butuh Pertimbangkan Banyak Hal

Atribusi Sumber & Rujukan Editorial:

Artikel DevNetCUK ini disadur dan diberi konteks berdasarkan materi publikasi dari DetikInet Teknologi. Atribusi dan tautan asli dipertahankan untuk memudahkan pembaca memverifikasi informasi langsung ke sumbernya.

Baca Versi Asli di DetikInet Teknologi →

Tinjauan Redaksi — DevNetCUK

BUKAN ISI BERITA ASLI  |  Sumber asli: DetikInet Teknologi

Prabowo Sebut Giant Sea Wall Wajib Dibangun, Pantura Terancam Tenggelam. — Dari sisi infrastruktur, setiap berita industri sebaiknya ditelaah dari 3 aspek penilaian: apakah berdampak pada keamanan, apakah berdampak pada skala/kapasitas, dan apakah berdampak pada SLA layanan. Gunakan 3 kriteria ini untuk menyaring agenda prioritas mingguan tim IT.

Iklan Sponsor / Advertisement

Bagikan Artikel Ini

Bagikan wawasan teknologi infrastruktur IT ini kepada tim & rekan kerja Anda.

Berita Terkait Lainnya

Lihat Semua Berita →
Modus Penipuan Makin Ngeri, 63 Orang Ditangkap-11 Juta Akun Dihapus
INDUSTRI IT

Modus Penipuan Makin Ngeri, 63 Orang Ditangkap-11 Juta Akun Dihapus

Meta berkomitmen memberantas penipuan dengan menghapus 159 juta iklan dan 11 juta akun terkait. Simak selengkapnya!

Baca Selengkapnya →
Trump Minta Kapal Induk AS Balik Pakai Teknologi Jadul, Kenapa?
TEKNOLOGI & IT

Trump Minta Kapal Induk AS Balik Pakai Teknologi Jadul, Kenapa?

Presiden Donald Trump memerintahkan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk mencabut sistem canggih yang digunakan untuk meluncurkan jet tempur dari kapal induk.

Baca Selengkapnya →
Fitur Baru Google Bisa Catat dan Transkrip Rapat Walau Tak Hadir
INDUSTRI IT

Fitur Baru Google Bisa Catat dan Transkrip Rapat Walau Tak Hadir

Google Meet luncurkan fitur "Catat untuk Saya" yang otomatis merekam dan merangkum rapat. Cukup letakkan ponsel, AI Gemini akan mencatat semua.

Baca Selengkapnya →