Jakarta — Telkomsel bersama Pemerintah Provinsi Bali, Gasing Academy, Kuncie, dan pemangku kepentingan pendidikan di Bali berkolaborasi memperkuat kemampuan numerasi guru dan siswa. Upaya tersebut dilakukan melalui ekosistem pembelajaran digital dengan dukungan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk pendidikan (AI for Education).
Numerasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berhitung. Kemampuan tersebut menjadi fondasi untuk bernalar, memahami informasi, memecahkan masalah, serta mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
Kolaborasi digitalisasi pendidikan ini juga sejalan dengan Asta Cita keempat Presiden Republik Indonesia. Salah satu fokusnya adalah memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains dan teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.
Ekosistem pembelajaran dalam program tersebut dimulai dari peningkatan kompetensi guru melalui Gasing Academy dengan pendekatan GASING (Gampang, Asyik, Menyenangkan). Pembelajaran siswa kemudian diperkuat melalui Sacred Octagon, platform berbasis permainan yang didukung teknologi AI untuk membantu anak berlatih matematika secara interaktif dan bertahap.
Sementara itu, SkulPintar disiapkan untuk mendukung proses pembelajaran dan asesmen. Hasil pelaksanaan program juga dirancang untuk dipantau berbasis data sebagai bahan evaluasi dan penyempurnaan berkelanjutan.
Direktur Utama Telkomsel Nugroho mengatakan numerasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berhitung, tetapi juga menjadi dasar untuk berpikir, memahami masalah, dan mengambil keputusan.
"Numerasi lebih dari sekadar kemampuan berhitung, tetapi juga fondasi untuk berpikir, memahami masalah, dan mengambil keputusan. Melalui kolaborasi ini, kami ingin memberi lebih banyak anak kesempatan untuk belajar, mencoba, mencoba lagi, hingga percaya bahwa mereka bisa dan berhasil. Dari Bali, mari bersama membangun generasi yang lebih cerdas, percaya diri, dan siap membawa Indonesia menjadi bangsa yang besar." kata Nugroho dalam keterangan tertulis, Jumat (14/8/2026).
Pada kegiatan tersebut, guru dan siswa juga berkesempatan menyaksikan serta mencoba pembelajaran Sacred Octagon dan pendekatan GASING. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk memahami kebutuhan di lapangan sekaligus mengukur manfaat program secara bertahap.
Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan kolaborasi tersebut sejalan dengan komitmen Pemerintah Provinsi Bali dalam membangun SDM Bali Unggul. Menurutnya, kemampuan numerasi dapat membentuk generasi yang terbiasa berpikir logis, bekerja berbasis data, dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
"Kolaborasi ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Provinsi Bali dalam membangun SDM Bali Unggul, karena kemampuan numerasi akan membentuk generasi yang terbiasa berpikir logis, bekerja berbasis data, dan siap beradaptasi dengan perkembangan zaman. Kami mengapresiasi inisiatif Telkomsel dan Prof. Yohanes Surya yang menghadirkan program ini di Bali, dan kami siap mendorong kolaborasi yang lebih luas agar manfaatnya dapat dirasakan oleh sekolah dan masyarakat di seluruh wilayah Bali." kata Wayan.
Dalam konsep AI for Education, guru tetap menjadi pusat proses pembelajaran. Teknologi sebagai alat bantu agar pendidik dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih sesuai perkembangan kemampuan siswa.
Pencetus Metode GASING Prof. Yohanes Surya Ph.D mengatakan tidak ada anak yang bodoh. Menurutnya, anak membutuhkan kesempatan untuk belajar dengan metode dan pendampingan guru yang baik.
"Tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah mereka yang belum dapat kesempatan belajar dari guru dan metode yang baik. Melalui GASING, matematika kami hadirkan secara sederhana, bertahap, dan menyenangkan. Ketika guru semakin percaya diri mengajar dan anak tidak lagi takut mencoba, di situlah proses belajar mulai membawa perubahan." ujar Yohanes.
Sebelumnya, Telkomsel dan INA AI telah menghadirkan Paket Bundling Telkomsel x Sacred Octagon melalui aplikasi MyTelkomsel dan by.U untuk memperluas akses keluarga Indonesia terhadap pembelajaran numerasi digital. Dalam kolaborasi di Bali, dukungan tersebut diperkuat melalui keterlibatan pemerintah daerah, peningkatan kompetensi pendidik, pembelajaran siswa, dan evaluasi program secara bertahap.