Jakarta — Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) mengubah arah pembangunan infrastruktur telekomunikasi Indonesia. Hal ini yang melandasi penggelaran jaringan 5G ditargetkan pemerintah dapat mencapai pelosok Tanah Air.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mempercepat roadmap jaringan 5G agar mampu menopang kebutuhan ekonomi digital generasi baru, dengan target cakupan layanan 5G mendekati cakupan nasional pada 2029.
Sekretaris Jenderal Kementerian Komdigi Ismail mengatakan konektivitas kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai sarana komunikasi, tetapi menjadi fondasi produktivitas, inovasi, dan daya saing nasional di era AI.
"Roadmap 5G harus kita percepat. Kita berharap pada 2029 cakupan 5G di Indonesia terus berkembang sampai ke pelosok-pelosok tanah air. Ini penting karena dunia sedang bergerak menuju ekonomi berbasis AI, sehingga infrastruktur digital harus mampu mengimbangi kebutuhan tersebut," ujar Ismail dikutip dari keterangan tertulis, Senin (10/8/2026).
Hal yang menyakini pemerintah penggelaran jaringan 5G meluas setelah dilakukannya lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz. Kedua pita tersebut menambah 'kekuatan' spektrum operator seluler untuk menghadirkan layanan 5G secara optimal yang sebelumnya harus berbagi untuk layanan 4G.
Adapun, Komdigi juga telah memberikan komitmen kepada Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison, dan XLSmart untuk memperluas sinyal 5G hingga 51% cakupan nasional pada tahun kelima.
"Kami baru saja merilis spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz dengan biaya yang lebih terjangkau dibanding sebelumnya. Pemerintah harus hadir memberikan ruang agar investasi infrastruktur digital dapat tumbuh lebih cepat," ucap Ismail.
Selain penyediaan spektrum, pemerintah juga menyiapkan regulasi yang memberikan kepastian bagi investasi jangka panjang. Ismail menjelaskan kepastian regulasi menjadi faktor penting agar industri telekomunikasi dapat terus memperluas jaringan sekaligus mengembangkan berbagai layanan digital baru.
Ia juga mendorong operator telekomunikasi melakukan transformasi model bisnis. Infrastruktur digital tidak lagi hanya menyediakan konektivitas, tetapi juga harus menjadi penggerak solusi digital di berbagai sektor strategis, mulai dari pertanian, pertambangan, manufaktur, kesehatan, pendidikan, hingga sektor keuangan.
"Kita ingin operator tidak hanya menyediakan jaringan, tetapi juga menghadirkan solusi yang menciptakan nilai tambah bagi berbagai sektor ekonomi," imbuhnya.
Di sisi lain, menurut Ismail, Indonesia telah memiliki fondasi infrastruktur digital yang kuat. Jaringan serat optik nasional telah membentang lebih dari satu juta kilometer, termasuk kabel bawah laut yang menghubungkan berbagai pulau di Indonesia.
Pembangunan berikutnya kini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas, kualitas, dan ketahanan jaringan agar mampu mendukung layanan digital generasi baru.
"Tantangan kita bukan lagi sekadar memperluas jaringan dasar. Yang kita bangun sekarang adalah infrastruktur yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi digital berbasis AI," katanya.
Ia menjelaskan perkembangan AI juga mengubah cara membangun industri telekomunikasi.
Jika sebelumnya operator berfokus menyediakan kapasitas bandwidth, kini jaringan harus mampu menopang layanan AI cloud, komputasi berkinerja tinggi, Internet of Things, serta berbagai aplikasi digital yang meningkatkan produktivitas masyarakat dan dunia usaha.
"Dulu operator menjual bandwidth. Sekarang infrastruktur harus mampu mendukung layanan AI cloud dan berbagai aplikasi produktif yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan industri," pungkasnya.