Jakarta — Bayangkan hidup di sebuah dunia yang tidak diguyur hujan selama puluhan tahun. Namun ketika hujan akhirnya turun, yang datang bukan gerimis, melainkan badai dahsyat. Itulah yang diduga terjadi di Titan, satelit alami terbesar Saturnus.
Penelitian terbaru menunjukkan wilayah khatulistiwa Titan yang selama ini dikenal sangat kering ternyata masih mengalami hujan. Bedanya, hujan metana di sana bisa baru turun setelah puluhan tahun, lalu datang dalam bentuk hujan lebat yang terjadi di sekitar periode ekuinoks, saat Matahari melintasi garis khatulistiwa Titan.
Titan merupakan satu-satunya benda langit selain Bumi yang diketahui memiliki siklus cuaca lengkap. Bedanya, jika di Bumi air menguap, membentuk awan, lalu turun sebagai hujan, di Titan peran tersebut dimainkan oleh metana.
Dengan suhu permukaan sekitar minus 179 derajat Celsius, air membeku sekeras batu. Sebaliknya, metana dapat berada dalam bentuk cair sehingga membentuk awan, sungai, danau, hingga hujan.
Salah satu bukti hujan di Titan muncul pada September 2010 ketika wahana Cassini milik NASA mengamati wilayah khatulistiwa Titan berubah menjadi lebih gelap dalam beberapa hari. Para ilmuwan menafsirkan perubahan warna tersebut sebagai bekas hujan metana yang membasahi hamparan bukit pasir yang sebelumnya kering. Fenomena itu kemudian dikenal sebagai Arrow Storm.
Pengamatan tersebut mengubah pemahaman ilmuwan tentang iklim Titan. Selama ini, model iklim menunjukkan sebagian besar hujan terjadi di wilayah kutub, tempat danau serta lautan metana terkonsentrasi. Sementara daerah khatulistiwa hampir selalu kering sehingga hujan hanya muncul sesekali dalam interval yang sangat panjang.
Ilmuwan atmosfer Tetsuya Tokano menjelaskan bahwa hujan di wilayah khatulistiwa kemungkinan besar berkaitan dengan perubahan musim di Titan.
"Curah hujan di wilayah khatulistiwa kemungkinan besar terjadi di sekitar periode ekuinoks," kata Tokano seperti dikutip dari SpaceDaily, Senin (10/8/2026).
Ia menambahkan bahwa sabuk hujan di Titan tidak menetap di satu tempat. "Sabuk hujan, meski muncul secara berkala, bergerak dari kutub selatan ke kutub utara. Artinya, setiap wilayah di Titan berpeluang mengalami hujan selama satu tahun Titan," imbuhnya.
Satu tahun di Titan setara dengan sekitar 29,5 tahun di Bumi, sehingga perubahan musim berlangsung sangat lambat. Akibatnya, sebagian wilayah dapat menunggu puluhan tahun sebelum kembali diguyur hujan.
Meski jarang, badai metana yang terjadi diperkirakan cukup kuat untuk membentuk bentang alam Titan, termasuk lembah sungai dan pola erosi yang terlihat dari hasil pengamatan wahana Cassini. Temuan ini membantu ilmuwan memahami bagaimana lanskap satelit Saturnus tersebut terus berubah meski hujan turun sangat jarang.