
Jakarta, CNBC Indonesia - Israel memimpin daftar konsentrasi talenta AI terbanyak di dunia. Negara tersebut mengalahkan China dan Amerika Serikat (AS) yang selama ini dikenal sebagai dua negara paling mendominasi perkembangan AI saat ini.
Berdasarkan data LinkedIn dan Microsoft tahun 2024, Israel menduduki peringkat pertama dengan 1,98%. Posisi berikutnya diisi oleh Singapura (1,64%) dan Luksemburg (1,44%).
"Banyak negara dengan konsentrasi talenta AI tertinggi seperti Israel, Singapura, Luksemburg, dan Estonia memiliki jumlah penduduk serta luas wilayah yang relatif kecil. Namun, mereka sangat menonjol dalam hal pengembangan talenta AI secara cepat," kata Chua Pei Ying, Kepala Ekonom LinkedIn untuk wilayah APAC, beberapa saat lalu.
"Hal ini dapat terwujud dengan membangun ekosistem yang mendukung. Perusahaan berinvestasi dalam pengembangan keterampilan karyawannya, dan pemerintah membuat kebijakan yang mendorong pembelajaran berkelanjutan," tambah Chua.
Baik China maupun AS sama-sama tidak masuk dalam 10 besar laporan tersebut. Khusus untuk China, tidak masuknya negara ini disebabkan oleh layanan LinkedIn yang tidak dapat diakses di sana, sehingga datanya tidak bisa dihimpun.
India juga tidak masuk dalam daftar 10 besar. Meski demikian, terdapat peningkatan hingga 252% sepanjang periode 2016-2024 yang menunjukkan India cukup agresif dalam pengembangan talenta AI di dalam negeri. Bahkan, perekrutan tenaga kerja terkait AI di India mencatatkan lonjakan hingga 33,4% dalam setahun sepanjang 2024.
Dalam hal perekrutan terkait AI, Singapura mencatatkan pertumbuhan sebesar 25%, disusul oleh AS sebesar 24,7%. Chua menjelaskan bahwa fokus Singapura pada pembelajaran berkelanjutan sangat berkontribusi pada daya saingnya di era AI.
"Data kami menunjukkan bahwa para pekerja di Singapura adalah yang paling cepat belajar. Mereka menghabiskan waktu 40% lebih banyak untuk mempelajari keterampilan AI dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara," jelasnya.
Berikut daftar 10 besar negara dengan konsentrasi talenta AI terbanyak, dikutip dari CNBC Make It:
- Israel (1,98%)
- Singapura (1,64%)
- Luksemburg (1,44%)
- Estonia (1,17%)
- Swiss (1,16%)
- Finlandia (1,13%)
- Irlandia (1,11%)
- Jerman (1,09%)
- Belanda (1,07%)
- Korea Selatan (1,06%)
Sementara itu, laporan yang sama menyebutkan bahwa 66% pemimpin perusahaan menyatakan tidak akan merekrut karyawan yang tidak memiliki keterampilan AI.
Laporan tersebut juga membeberkan preferensi perusahaan dalam merekrut kandidat. Sebanyak 71% responden memilih untuk merekrut orang yang belum berpengalaman tetapi memiliki kemampuan AI, dibandingkan kandidat berpengalaman tanpa kemampuan AI.
Survei gabungan Microsoft dan LinkedIn ini dilakukan terhadap 31.000 responden di 31 negara.
Dalam studi ini, LinkedIn memperhitungkan beberapa kemampuan teknis (engineering) AI, seperti pembelajaran mesin (machine learning) dan pemrosesan bahasa alami (natural language processing), serta kemampuan literasi AI seperti penggunaan ChatGPT dan GitHub Copilot.
[Gambas:Video CNBC]