
Jakarta, CNBC Indonesia - Masyarakat global saat ini dihadapkan dengan ancaman krisis iklim yang semakin menantang. Terlebih kenyataan bahwa sektor bangunan dan konstruksi dewasa ini menyumbang sekitar 37% emisi CO2 global, mengonsumsi sekitar sepertiga energi dunia, dan bertanggung jawab atas hampir 50% ekstraksi material global. Ini menjadikan sektor tersebut sebagai salah satu kontributor terbesar krisis iklim.
Di sisi lain, Indonesia melalui dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% dengan upaya domestik, serta hingga 43,20% dengan dukungan internasional pada tahun 2030.
Dalam mencapai target tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat telah menyusun dan mengatur pemenuhan Standar Teknis Bangunan Gedung Hijau dan Bangunan Gedung Cerdas (BGC) melalui Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2021, yang diturunkan lebih lanjut dalam Permen PUPR Nomor 21 Tahun 2021. Bangunan gedung hijau wajib memenuhi kinerja efisiensi sumber daya, dengan target konservasi energi sebesar 25% dan konservasi air minimal 10%. Standar ini juga mewajibkan penerapan prinsip ramah lingkungan sejak tahap perencanaan, pelaksanaan konstruksi, hingga operasional gedung.
Konsep BGC turut diterapkan SMC Rumah Sakit Telogorejo, Semarang, Jawa Tengah, melalui Building Management System (BMS). Sistem ini mengintegrasikan pemantauan utilitas kritis, termasuk Heating, Ventilation, and Air Conditioning (HVAC), sistem kelistrikan, dan Uninterruptible Power Supply (UPS), dalam satu command center terpusat melalui platform EcoStruxure Building Operation dari Schneider Electric. BMS juga menggantikan pengelolaan manual dengan pemantauan real-time, peringatan otomatis, dan pemeliharaan yang lebih proaktif, sehingga membuat pengelolaan gedung semakin cerdas.
Facility Manager SMC Rumah Sakit Telogorejo, Rio Oktavianus menjelaskan, ihwal penerapan BMS mulanya disebabkan oleh kenaikan biaya listrik yang mencapai 1% hingga 1,5% dalam setiap tahunnya. Untuk mengatasi hal tersebut, SMC Rumah Sakit Telogorejo melakukan penjadwalan operasional secara manual HVAC dan kelistrikan.
"Jadi kita melakukan penjadwalannya setiap pagi ketika pasien sudah mulai datang banyak dirawat jalan, dan seterusnya sekitar jam 9 itu AC kita nyalakan maksimal. Pokoknya nyala, ruangan harus dingin, lampu kita nyalakan, listrik kita aktifkan, sampai nanti malam, jam 7 malam, jam 8 malam itu baru matikan," ungkap dia kala dijumpai di Schneider Electric Indonesia Headquarters, Gedung Cibis 9, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
Namun upaya ini justru menimbulkan kebocoran energi atau energy loss, alih-alih efisiensi. Menurut Rio, lonjakan konsumsi listrik pada 2023 dan 2024 yang mencapai 9% dan terbesar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Bayangkan jika terus naik setiap tahunnya 9%. (Angka) 9% setiap tahun itu cost yang lumayan sekali," tegas Rio
Untuk itu, pihaknya menggandeng Schneider Electric selaku penyedia inovasi Building Management System (BMS). Sebelumnya Rumah Sakit Telogorejo telah memanfaatkan beberapa solusi lain dari Schneider Electric.
"Kita menggunakan Schneider Electric, karena otomatis secara operasional kita lebih gampang. Karena kita tidak mungkin memberhentikan rumah sakit demi untuk membuat sistem ini," terang Rio.
Adapun implementasi ini menghasilkan penurunan total pengeluaran listrik sebesar 5% pada 2025, sekaligus membalikkan tren kenaikan biaya sebesar 9% per tahun. Tak hanya itu, EcoStruxure Building Operation menekan waktu respons teknis terhadap anomali menjadi 60% lebih cepat berkat peringatan otomatis, serta memberikan visibilitas real-time terhadap utilitas kritis, sehingga potensi gangguan dapat diketahui dan ditangani lebih awal.
Implementasi ini membantu rumah sakit meningkatkan efisiensi biaya, mempercepat penanganan gangguan, dan menjaga kondisi ruang kritis secara lebih konsisten tanpa mengurangi keandalan layanan medis.
Setali tiga uang, implementasi BGC juga dilakukan Petrokimia Gresik yang mengadopsi solusi Schneider Electric dengan mengimplementasikan EcoStruxure Transformer Expert, pemantauan transformer berbasis IoT yang memungkinkan pemantauan kondisi secara real-time. Teknologi ini mengintegrasikan sensor dan analitik canggih untuk memberikan insight mendalam terhadap performa transformer, sehingga operator dapat mengantisipasi potensi gangguan lebih awal, mengurangi downtime, dan menyederhanakan pemeliharaan.
Petrokimia Gresik juga memanfaatkan EcoStruxure™ Asset Advisor untuk pemantauan 24/7 dan diagnosis prediktif, yang didukung oleh perangkat seperti MCSET, MV Drive, dan PLC M580. Solusi ini memungkinkan pengambilan keputusan berbasis data yang lebih akurat, meningkatkan keandalan listrik, efisiensi energi, serta stabilitas operasional secara keseluruhan.
Untuk mendukung operasional yang tersebar di berbagai lokasi, Petrokimia Gresik mengimplementasikan EcoStruxure™ Geo SCADA Expert guna memantau dan mengontrol proses produksi serta pengolahan material secara real-time. Sistem ini meningkatkan visibilitas lintas fasilitas, mempercepat respons terhadap perubahan kondisi operasional, serta mendorong transisi menuju Industri 4.0 melalui konektivitas berbasis cloud.
SVP Pemeliharaan Petrokimia Gresik, Iwan Febrianto mengungkapkan pemanfaatan teknologi digital menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kinerja operasional secara berkelanjutan.
"Dengan mengadopsi solusi dari Schneider Electric, kami telah mentransformasi cara kami memantau dan mengelola aset kritikal, sehingga mampu meningkatkan keandalan, mengurangi risiko downtime, serta memberdayakan operasional kami dengan insight berbasis data," ujar Iwan.
Diketahui Schneider Electric menghadirkan berbagai BMS dan Digital Solutions. Solusi pertama adalah EcoStruxure Building Operation atau platform BMS terpadu yang memungkinkan pemantauan, kontrol, dan optimasi berbagai sistem bangunan, termasuk HVAC, kelistrikan, pencahayaan, keamanan, dan energi. Solusi ini membantu meningkatkan efisiensi energi, memperkuat keandalan operasional, serta menyediakan visibilitas real-time untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan berbasis data.
Kemudian EcoStruxure Power Monitoring Expert (PME) yang membantu pemilik dan pengelola gedung mengubah data energi menjadi tindakan nyata. Dengan visibilitas real-time terhadap konsumsi energi dan kualitas daya, PME memungkinkan identifikasi pemborosan energi lebih cepat, meningkatkan keandalan sistem kelistrikan, serta mengoptimalkan biaya operasional.
Terintegrasi dengan EcoStruxure Building Operation (EBO), PME menghadirkan satu platform untuk memonitor dan mengelola performa bangunan secara menyeluruh, mendukung operasional yang lebih efisien, berkelanjutan dan berkelanjutan.
Lalu Guest Rooms Management System (GRMS) yakni solusi manajemen kamar yang umumnya digunakan di hotel untuk mengintegrasikan kontrol pencahayaan, HVAC, tirai, dan perangkat kamar lainnya dalam satu sistem terpusat. Solusi ini membantu meningkatkan kenyamanan tamu, mengoptimalkan efisiensi energi berdasarkan tingkat okupansi, serta mendukung operasional hotel yang lebih cerdas dan efisien.
GRMS juga dapat diintegrasikan dengan EcoStruxure Building Operation (EBO) untuk pemantauan dan pengelolaan bangunan yang lebih terpusat dan terintegrasi. Schneider Electric juga memiliki Smart Panel yakni solusi distribusi daya cerdas yang mengintegrasikan sistem distribusi, proteksi, kontrol, monitoring, dan pengukuran energi dalam satu ekosistem terhubung. Solusi ini dapat mencakup Busduct/Busbar Trunking System (BTS), MasterPacT MTZ Active, TeSys Tera, PowerLogic Meter, serta perangkat digital lainnya untuk menyediakan visibilitas real-time terhadap kondisi sistem kelistrikan dan konsumsi energi.
Dengan pendekatan yang terintegrasi, Smart Panel membantu meningkatkan efisiensi energi, keandalan operasional, keselamatan, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Dalam hal layanan, Schneider Electric mendorong transformasi bangunan melalui EcoConsult Walkthrough Assessment atau layanan assesmen yang membantu pemilik dan pengelola gedung mengidentifikasi peluang peningkatan efisiensi energi, keandalan, dan keselamatan.
Melalui evaluasi menyeluruh terhadap sistem kelistrikan dan otomasi bangunan, layanan ini memberikan
Artikel DevNetCUK ini disadur dan diberi konteks berdasarkan materi publikasi dari CNBC Indonesia Tech. Atribusi dan tautan asli dipertahankan untuk memudahkan pembaca memverifikasi informasi langsung ke sumbernya.
Tinjauan Redaksi — DevNetCUK
BUKAN ISI BERITA ASLI | Sumber asli: CNBC Indonesia Tech
Jadi Bangunan Cerdas, RS dan Pabrik Ini Mampu Tekan Cost dan Downtime. — Dari sisi infrastruktur, setiap berita industri sebaiknya ditelaah dari 3 aspek penilaian: apakah berdampak pada keamanan, apakah berdampak pada skala/kapasitas, dan apakah berdampak pada SLA layanan. Gunakan 3 kriteria ini untuk menyaring agenda prioritas mingguan tim IT.
Bagikan Artikel Ini
Bagikan wawasan teknologi infrastruktur IT ini kepada tim & rekan kerja Anda.
Berita Terkait Lainnya
Lihat Semua Berita →
Penampakan Nintendo Switch 2 yang Akan Rilis Resmi di Indonesia
Nintendo mengumumkan akan segera menghadirkan Switch dan Switch 2 secara resmi di Indonesia. Berikut pengalaman singkat menjajal Nintendo Switch 2.
Warga Protes Listrik Mahal-Air Kering, Malah Ditawari Festival Bawang
Proyek data center Amazon di Gilroy, California, berlangsung tanpa sepengetahuan warga selama 5 tahun.
Menteri UMKM Maman Janjikan Perpres Ojol Segera Terbit
Menteri UMKM Maman Abdurrahman menjanjikan Perpres Ojol akan segera terbit