Jakarta — Pemerintah ingin industri game Indonesia terus tumbuh, tetapi di saat bersamaan ruang digital juga harus tetap aman bagi anak-anak. Karena itu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyiapkan sejumlah langkah untuk melindungi pengguna muda.
Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital Bidang Pemuda dan Startup Alfreno Kautsar Ramadhan mengatakan arah kebijakan Komdigi saat ini mengacu pada tiga prinsip, yakni Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga.
Menurutnya, aspek "Terjaga" menjadi penting karena pemerintah tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi digital, tetapi juga memastikan masyarakat mendapatkan ruang digital yang aman.
"Kita berusaha semaksimal mungkin untuk nggak cuma menumbuhkan kontribusi ekonomi digital, tapi juga menjaga ruang digital sendiri," ujar Alfreno di acara Hari Game Indonesia, Jakarta, Sabtu (8/8/2026).
PP Tunas Jadi Salah Satu Andalan
Salah satu jurus yang digunakan pemerintah adalah PP Tunas, yang menyasar perlindungan anak di ruang digital.
Alfreno mengatakan platform digital diminta melakukan self-assessment untuk melihat tingkat risiko layanannya terhadap anak. Sampai saat ini, sekitar 175 platform disebut telah atau sedang mengirimkan self-assessment untuk kemudian dievaluasi Komdigi.
"Ketika kita evaluasi, lalu ketika memang ada report, kita bisa lihat dampaknya itu apa. Apakah menjadi risiko tinggi, risiko rendah. Nah itu yang kita sekarang sedang menjalankan tahap evaluasi itu," katanya.
Evaluasi tersebut diharapkan membantu pemerintah memetakan platform mana yang membutuhkan pengawasan lebih ketat, termasuk layanan digital yang banyak digunakan anak-anak.
Ada DARA untuk Bantu Orang Tua
Komdigi juga menyiapkan platform bernama DARA yang ditujukan untuk membantu anak dan orang tua ketika muncul indikasi masalah dalam penggunaan ruang digital.
Alfreno mencontohkan perubahan perilaku seperti menjadi lebih temperamental, tidak mau bersosialisasi, atau terlalu lama berada di ruang digital dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan orang tua.
Menurutnya, DARA dibuat agar mudah diakses oleh masyarakat.
"DARA ini very accessible, it's just one chat away," ujarnya.
Ia menegaskan tidak semua game bersifat edukatif sehingga orang tua tetap perlu memperhatikan jenis permainan dan pola penggunaan perangkat oleh anak.
Komdigi juga membuka ruang kolaborasi dengan pelaku industri, termasuk Asosiasi Game Indonesia (AGI).
Salah satu isu yang tengah dibahas adalah kategori usia pada game, agar produk yang beredar bisa lebih sesuai dengan kelompok pengguna yang memainkannya.
Alfreno menyebut kolaborasi ini penting karena perlindungan anak tidak cukup dilakukan pemerintah sendiri, tetapi membutuhkan keterlibatan platform, developer, asosiasi, dan orang tua.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berharap ekosistem game Indonesia bisa tetap berkembang tanpa mengabaikan aspek keselamatan anak di ruang digital.