4 mnt baca (627 kata)
| |
CYBER SECURITY 11 August 2026, 06:45 WIB

Mengenal Shadow Bands, Fenomena Unik Saat Gerhana Matahari Total

Sumber Resmi: CNN Indonesia Tekno
DevNetCUK Tech Digest
Mengenal Shadow Bands, Fenomena Unik Saat Gerhana Matahari Total
Mengenal Shadow Bands, Fenomena Unik Saat Gerhana Matahari Total

Gerhana Matahari total menampilkan fenomena unik shadow bands, garis-garis gelap yang bergerak. Ilmuwan masih mencari penjelasan pasti penyebabnya.

Iklan Sponsor / Advertisement
Jakarta, CNN Indonesia --

Gerhana Matahari total tak hanya menghadirkan pemandangan Matahari yang tertutup sempurna oleh Bulan. Sesaat sebelum dan setelah fase totalitas, sebagian pengamat juga dapat melihat fenomena unik yang disebut shadow bands.

Fenomena ini berupa garis-garis gelap panjang yang dipisahkan ruang terang dan tampak bergerak cepat di permukaan tanah atau dinding bangunan.

Selama berabad-abad, pengamat gerhana menggambarkan fenomena tersebut seperti air yang beriak, ular bayangan, atau pola terang dan gelap yang bergerak.

Namun, hingga kini ilmuwan belum memiliki penjelasan definitif mengenai penyebab shadow bands.

Profesor fisika dan astronomi University of Pittsburgh David Turnshek pertama kali melihat fenomena itu saat berusia 14 tahun ketika menyaksikan gerhana Matahari total di dekat Virginia Beach pada 1970.

"Saya menyadari sesaat sebelum gerhana total, saya melihat pita-pita cahaya ini menyapu permukaan tanah," kata Turnshek, dikutip dari CNN, Selasa (11/8).

Mata manusia relatif mudah mendeteksi shadow bands. Namun, fenomena tersebut sulit direkam menggunakan foto atau video karena perbedaan antara bagian terang dan gelap sangat tipis.

Salah satu teori utama menyebut shadow bands terbentuk akibat turbulensi atmosfer.

Sesaat sebelum fase totalitas, hampir seluruh Matahari telah tertutup Bulan dan hanya tersisa sabit cahaya sangat tipis.

Kondisi ini diperkirakan membuat gangguan akibat gerakan udara di atmosfer menjadi lebih mudah terlihat.

Fenomena tersebut mirip dengan alasan bintang tampak berkelap-kelip ketika dilihat dari Bumi.

Untuk mengujinya, Turnshek bersama sejumlah mahasiswa University of Pittsburgh melakukan penelitian saat gerhana Matahari total melintasi Amerika Serikat pada 2017.

Mereka memasang sensor cahaya atau fotodioda di permukaan tanah dan pada balon yang diterbangkan hingga ketinggian sekitar 25 kilometer.

Jika turbulensi atmosfer merupakan satu-satunya penyebab, pola shadow bands seharusnya terlihat di permukaan tetapi tidak pada balon yang berada di atas sebagian besar atmosfer.

Namun, peneliti menemukan sinyal berkelanjutan dengan frekuensi 4,5 hertz baik di permukaan maupun pada ketinggian tersebut.

"Kami melihat efek ini di atas atmosfer dan di permukaan tanah. Artinya, teori utama tentang shadow bands mungkin tidak menjadi satu-satunya penjelasan," ujar Turnshek.

Hasil tersebut kembali mengangkat kemungkinan mekanisme lain, yakni difraksi dan interferensi cahaya.

Difraksi terjadi ketika gelombang cahaya melewati penghalang atau tepi tertentu, kemudian membelok dan saling berinteraksi sehingga menghasilkan pola terang dan gelap.

Dalam kasus gerhana, tepian Bulan diduga dapat berperan layaknya sebuah penghalang yang memengaruhi gelombang cahaya Matahari.

Meski demikian, Turnshek mengatakan kedua mekanisme tersebut masih mungkin bekerja secara bersamaan.

Iklan Sponsor / Advertisement

"Dalam situasi ilmiah yang rumit, sering kali dua hal bisa benar pada saat yang sama dan sama-sama berkontribusi terhadap sebuah fenomena," katanya.

Cara melihat shadow bands

Shadow bands biasanya muncul sesaat sebelum atau setelah fase totalitas sehingga mudah terlewat.

Pengamat disarankan menggunakan permukaan datar, halus, dan berwarna terang sebagai latar pengamatan.

Pengamat gerhana Gordon Telepun mengatakan pola tersebut sulit terlihat pada rumput atau aspal.

"Anda membutuhkan latar yang halus dan berwarna terang," katanya.

Papan sederhana yang dilapisi kain putih juga dapat digunakan untuk membantu menangkap pola tersebut.

Pengamat juga perlu memperhatikan permukaan tanah menjelang fase totalitas, bukan hanya melihat ke arah Matahari.

Fenomena shadow bands kembali berpeluang diamati saat gerhana Matahari total pada Rabu (12/8), ketika jalur totalitas melintasi Rusia bagian utara, Greenland timur, Islandia barat, Spanyol bagian utara, dan sudut timur laut Portugal.

(lom)
Atribusi Sumber & Rujukan Editorial:

Artikel DevNetCUK ini disadur dan diberi konteks berdasarkan materi publikasi dari CNN Indonesia Tekno. Atribusi dan tautan asli dipertahankan untuk memudahkan pembaca memverifikasi informasi langsung ke sumbernya.

Baca Versi Asli di CNN Indonesia Tekno →

Tinjauan Redaksi — DevNetCUK

BUKAN ISI BERITA ASLI  |  Sumber asli: CNN Indonesia Tekno

Mengenal Shadow Bands, Fenomena Unik Saat Gerhana Matahari Total. — Dari sisi infrastruktur, kami menyarankan tim IT untuk segera memetakan aset kritis yang relevan dengan topik ini, memastikan patch level terkini, enable logging penuh pada perimeter security (firewall/SIEM), dan menjalankan uji runbook tanggap darurat (Incident Response tabletop) setidaknya satu kali per kuartal.

Iklan Sponsor / Advertisement

Bagikan Artikel Ini

Bagikan wawasan teknologi infrastruktur IT ini kepada tim & rekan kerja Anda.

Berita Terkait Lainnya

Lihat Semua Berita →
UMKM Kini Bisa Balas Chat Pelanggan 24 Jam Full Pakai AI di WhatsApp
INDUSTRI IT

UMKM Kini Bisa Balas Chat Pelanggan 24 Jam Full Pakai AI di WhatsApp

WhatsApp Business kini hadirkan Meta Business Agent, agen AI 24 jam untuk respons otomatis. Simak selengkapnya!

Baca Selengkapnya →
Nintendo Switch dan Switch 2 Segera Rilis Resmi di Indonesia
TEKNOLOGI & IT

Nintendo Switch dan Switch 2 Segera Rilis Resmi di Indonesia

Nintendo akan segera menghadirkan Switch dan Switch 2 secara resmi di Indonesia. Direncanakan konsol genggam ini akan meluncur ke Tanah Air pada akhir 2026.

Baca Selengkapnya →
Kolaborasi Kemenko Polkam, BSSN, Telkom Hadapi Era Komputasi Kuantum
INDUSTRI IT

Kolaborasi Kemenko Polkam, BSSN, Telkom Hadapi Era Komputasi Kuantum

Pemerintah Indonesia mempercepat antisipasi ancaman keamanan siber akibat teknologi komputasi kuantum.

Baca Selengkapnya →