5 mnt baca (859 kata)
| |
TEKNOLOGI & IT 12 August 2026, 08:50 WIB

Tak Cuma SketchUp, Revano Satria Andalkan Apple Books untuk Garap Desain

Sumber Resmi: DetikInet Teknologi
DevNetCUK Tech Digest
Tak Cuma SketchUp, Revano Satria Andalkan Apple Books untuk Garap Desain
Tak Cuma SketchUp, Revano Satria Andalkan Apple Books untuk Garap Desain

Revano Satria, arsitek dan desainer, memanfaatkan aplikasi digital, termasuk Apple Books, untuk mengelola proyek dari sketsa hingga desain 3D.

Iklan Sponsor / Advertisement
Jakarta -

Arsitek dan desainer Revano Satria memanfaatkan beragam aplikasi digital untuk menggarap proyeknya, mulai dari membuat sketsa, mengembangkan desain tiga dimensi (3D), hingga mengelola ribuan referensi. Menariknya, salah satu aplikasi yang menjadi bagian dari alur kerjanya adalah Apple Books.

Founder RSI Group dan Retired Space itu mengatakan setiap proyek yang dikerjakannya selalu dimulai dari sebuah garis dan sketsa. Bagi Revano, coretan awal menjadi bagian penting sebelum sebuah ide diterjemahkan menjadi desain yang lebih presisi.

"Setiap desain bermula dari satu garis," ujar Revano.

Menurutnya, setiap proyek selalu dimulai dari ide dan sketsa. Coretan pertama dianggap penting karena memberikan kebebasan lebih besar sebelum sebuah desain akhirnya dituntut menjadi presisi.

"Sketsa ini sangat berharga karena coretan pertama itu selalu membawa kami untuk melangkah lebih jauh," ungkapnya.

Karena itu, di studio Revano, proses desain dibiasakan untuk selalu dimulai dengan sketsa. Setelahnya, barulah ide tersebut dibawa masuk ke tahapan digital yang lebih kompleks.

Dari Sketsa Masuk ke Dunia 3D

Setelah sketsa dibuat, Revano dan tim masuk ke tahap 3D Concept Development. Proses ini digunakan untuk menerjemahkan ide awal menjadi bentuk tiga dimensi.

Tahapan berikutnya adalah rendering. Di sinilah desainer mulai dapat melihat bagaimana material, pencahayaan, dan berbagai elemen lainnya berpadu dalam rancangan.

"3D Rendering ini gunanya adalah kita bisa melihat bagaimana material-material yang ada, bagaimana cahaya yang ada, bagaimana semuanya itu berpadu menjadi satu," jelas Revano.

Untuk pekerjaan yang membutuhkan komputasi lebih kompleks, Revano menggunakan Grasshopper. Aplikasi tersebut terutama dimanfaatkan dalam pekerjaan desain parametrik.

Revano turut menyinggung perkembangan komputasi pada perangkat yang digunakannya, terutama sejak hadirnya generasi chip Apple M1 hingga M5. Kemampuan tersebut menjadi penting karena proses parametrik dapat memberikan beban komputasi yang cukup berat.

Selain Grasshopper, SketchUp menjadi salah satu aplikasi yang digunakan tim. Aplikasi desain 3D ini dinilai lebih universal dan relatif mudah digunakan.

"Ini salah satu aplikasi yang terkenal dengan sangat universal, sangat mudah digunakan," ujar Revano.

Setelah proses 3D selesai, desain dibuat semakin presisi dengan geometri yang lebih masuk akal. Tim juga melakukan konsultasi dengan konsultan spesialis sebelum rancangan dikembangkan lebih lanjut.

Model 3D kemudian memungkinkan mereka mengevaluasi objek yang dibuat, termasuk mencari kelemahan, kekurangan maupun kelebihannya.

Namun, workflow Revano tidak berhenti pada aplikasi untuk menggambar dan membuat model 3D. Mengelola data menjadi tantangan tersendiri karena proyeknya melibatkan banyak orang dan berlangsung di berbagai lokasi.

Menurut Revano, ekosistem digital menjadi penting agar manager, designer hingga junior designer bisa mengakses informasi yang dibutuhkan secara real-time.

Dengan sistem tersebut, tim dapat melihat detail proyek yang sedang berlangsung maupun proyek yang sudah selesai.

Manfaatnya semakin terasa ketika tim harus bekerja lintas lokasi. Saat ada anggota yang melakukan perjalanan untuk melihat sebuah bangunan atau proyek, tidak semua orang harus ikut datang.

"Dokumentasi yang diperoleh di lapangan dapat langsung dimasukkan ke library dan diakses anggota tim lainnya secara real-time," ungkap Revano.

Hal serupa diterapkan pada gambar kerja. Ketika ada perubahan, file dapat diperbarui sehingga anggota tim memiliki akses terhadap materi terbaru saat melakukan meeting.

Apple Books Bukan Cuma Buat Baca Buku

Menariknya, salah satu aplikasi yang digunakan dalam ekosistem kerja Revano adalah Apple Books.

Aplikasi yang lebih dikenal sebagai tempat membaca dan menyimpan buku digital tersebut dimanfaatkan sebagai bagian dari pengelolaan library dan referensi.

Kebutuhan tersebut tidak bisa dianggap sepele. Timnya harus menangani puluhan ribu file media serta berbagai materi pendukung proyek.

Mereka juga bekerja dengan banyak vendor yang memiliki katalog berbeda setiap tahunnya. Katalog lama tetap disimpan karena masih dapat dibutuhkan sebagai referensi ketika mengerjakan proyek berikutnya.

Iklan Sponsor / Advertisement

Sistem digital tersebut memungkinkan informasi proyek tetap tersedia bagi tim tanpa semua orang harus berada di lokasi yang sama. Ketika ada anggota tim melakukan perjalanan untuk melihat bangunan atau proyek di negara lain, dokumentasi bisa dimasukkan ke library sehingga dapat diakses anggota tim lainnya.

"Bahkan sekarang kami saling share library antar perusahaan di RSI Group," ungkap Revano.

Hal serupa berlaku untuk gambar kerja. Ketika ada pembaruan, tim dapat mengakses versi terbaru sehingga materi yang dibicarakan ketika meeting tetap sinkron.

Cara kerja ini menjadi semakin penting karena Revano menjalankan proyek melalui beberapa perusahaan dan melibatkan kolaborasi lintas tim.

Aplikasi yang tidak kalah pentingnya adalah Keynote. Sebagai seorang arsitektur, salah satu inti pekerjaannya adalah melakukan presentasi, dan aplikasi ini menjadi andalan belasan tahun untuk membuat materi.

Adanya fitur kolaborasi menjadi alasan utama Keynote dipakai. Bikin Revano dan timnya saling kerjasama menyiapkan materi sampai menit terakhir sebelum dipresentasikan.

"Ini fitur yang sangat berguna, tidak membuang waktu karena kita bisa mengerjakan satu presentasi secara real time dengan beberapa tim secara bersamaan. Ini terbukti bisa kami diselamatkan karena fitur ini berkali-kali, karena waktu yang sangat terbatas," papar Revano.

Bagi pria berkacamata ini, ekosistem digital pada akhirnya bukan sekadar menggunakan perangkat atau aplikasi terbaru. Teknologi harus bisa membuat proses kerja lebih efisien dan memungkinkan banyak orang berkolaborasi.


Atribusi Sumber & Rujukan Editorial:

Artikel DevNetCUK ini disadur dan diberi konteks berdasarkan materi publikasi dari DetikInet Teknologi. Atribusi dan tautan asli dipertahankan untuk memudahkan pembaca memverifikasi informasi langsung ke sumbernya.

Baca Versi Asli di DetikInet Teknologi →

Tinjauan Redaksi — DevNetCUK

BUKAN ISI BERITA ASLI  |  Sumber asli: DetikInet Teknologi

Tak Cuma SketchUp, Revano Satria Andalkan Apple Books untuk Garap Desain. — Dari sisi infrastruktur, setiap berita industri sebaiknya ditelaah dari 3 aspek penilaian: apakah berdampak pada keamanan, apakah berdampak pada skala/kapasitas, dan apakah berdampak pada SLA layanan. Gunakan 3 kriteria ini untuk menyaring agenda prioritas mingguan tim IT.

Iklan Sponsor / Advertisement

Bagikan Artikel Ini

Bagikan wawasan teknologi infrastruktur IT ini kepada tim & rekan kerja Anda.

Berita Terkait Lainnya

Lihat Semua Berita →
Gerhana Matahari Total 12 Agustus, Ilmuwan Teliti Bayangan Misterius Mirip Ular
TEKNOLOGI & IT

Gerhana Matahari Total 12 Agustus, Ilmuwan Teliti Bayangan Misterius Mirip Ular

Ada fenomena aneh saat Gerhana Matahari Total. Akan tampak garis-garis gelap menyerupai bayangan ular yang bergerak cepat.

Baca Selengkapnya →
Apakah RAM HP 8GB Masih Cukup di 2026?
CYBER SECURITY

Apakah RAM HP 8GB Masih Cukup di 2026?

Kebutuhan RAM untuk smartphone meningkat seiring perkembangan fitur AI. RAM 12GB kini jadi batas minimum untuk akses fitur AI terbaru di Android dan iOS.

Baca Selengkapnya →
2.000 Daerah RI Masih 'Gelap' Tanpa Internet, Paling Parah di Papua
INDUSTRI IT

2.000 Daerah RI Masih 'Gelap' Tanpa Internet, Paling Parah di Papua

Sebanyak 2.000 desa di Indonesia, terutama di Papua, belum terjangkau sinyal 4G. Simak selengkapnya!

Baca Selengkapnya →