3 mnt baca (504 kata)
| |
TEKNOLOGI & IT 12 August 2026, 13:46 WIB

AI Bikin Petani Gagal Panen,10 Hektar Ladang Wijen Mati

Sumber Resmi: DetikInet Teknologi
DevNetCUK Tech Digest
AI Bikin Petani Gagal Panen,10 Hektar Ladang Wijen Mati
AI Bikin Petani Gagal Panen,10 Hektar Ladang Wijen Mati

Petani berusia 67 tahun ini harus menelan kerugian besar setelah mengikuti saran pengendalian gulma dan hama dari sebuah aplikasi chatbot.

Iklan Sponsor / Advertisement

Jakarta — Kasus yang dialami oleh seorang petani di Chuzhou, China, menjadi pengingat keras bagi para pengguna internet untuk tidak mempercayai kecerdasan buatan atau AI secara mentah-mentah, terutama dalam hal-hal krusial. Petani berusia 67 tahun ini harus menelan kerugian besar setelah mengikuti saran pengendalian gulma dan hama dari sebuah aplikasi chatbot.

Akibat terlalu percaya AI, lahan pembibitan wijen seluas 10 hektar miliknya mati total. Berdasarkan laporan dari situs berita CTWANT, petani tersebut diinstruksikan oleh AI untuk menggunakan campuran bahan kimia yang terdiri dari high-efficiency flupyrimethalin, flusulfasulfaether, thiamethoxazine, dan methyl salt.

Petani itu pun mengikuti instruksi tersebut tanpa memeriksa kembali tingkat keamanannya. Ia mencampur bahan-bahan tersebut dan menyemprotkannya secara merata ke seluruh penjuru ladang. Keesokan paginya, ia baru menyadari kesalahan fatalnya saat menemukan seluruh bibit wijennya sudah mati terbakar bahan kimia.

Alasan di balik matinya tanaman

Petani yang kesal itu kemudian kembali mengakses chatbot AI untuk mencari tahu penyebab insiden tersebut. AI lantas menjelaskan bahwa biang keroknya adalah penggunaan flusulfasulfaether. Bahan kimia ini pada dasarnya adalah herbisida yang didesain untuk membunuh gulma berdaun lebar di ladang kedelai.

Masalahnya, tanaman wijen secara botani juga diklasifikasikan sebagai tanaman berdaun lebar, sehingga secara otomatis ikut terbasmi oleh bahan kimia tersebut. Aplikasi AI itu juga mengonfirmasi bahwa flusulfasulfaether seharusnya hanya disemprotkan secara langsung pada area gulma yang terdampak secara spesifik, bukan disebar luaskan ke seluruh penjuru ladang seperti yang dilakukan oleh sang petani.

Petani itu mengaku marah karena AI tidak pernah memberikan peringatan awal tentang bahaya dari saran tersebut. Ironisnya, ia sebenarnya sempat meragukan aplikasi AI tersebut saat pertama kali menggunakannya. Namun, ia kemudian berubah pikiran dan menaruh kepercayaan penuh setelah aplikasi itu sempat memberikan beberapa saran yang terbukti membantu.

Bahaya halusinasi kecerdasan buatan

Sistem chatbot pada dasarnya sering kali tidak memiliki pemahaman konteks dunia nyata. Seperti peringatan standar yang biasa dicantumkan pada bagian bawah layanan ChatGPT, AI dapat membuat kesalahan, salah memahami detail, atau hanya mengandalkan potongan informasi yang tidak lengkap saat merumuskan jawaban.

Iklan Sponsor / Advertisement

Kasus di China ini menambah panjang daftar insiden pengguna yang merugi akibat menelan mentah-mentah informasi dari AI. Tahun lalu, seorang pria berusia 60 tahun dilaporkan menderita bromism atau keracunan bromida kronis setelah mencoba mencari alternatif garam dapur.

Saat pria itu bertanya kepada ChatGPT mengenai zat pengganti garam untuk dietnya, chatbot tersebut secara fatal menyarankan sodium bromide. Zat ini memang benar bisa digunakan untuk keperluan tertentu seperti proses pembersihan, namun sama sekali beracun jika dikonsumsi sebagai makanan. Kondisi keracunan yang dialami pria tersebut bahkan tercatat sebagai kelainan psikiatris langka yang jarang ditemukan sejak abad ke-19, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Rabu (12/8/2026).

Akar Kemitraan Untuk Masa Depan

Atribusi Sumber & Rujukan Editorial:

Artikel DevNetCUK ini disadur dan diberi konteks berdasarkan materi publikasi dari DetikInet Teknologi. Atribusi dan tautan asli dipertahankan untuk memudahkan pembaca memverifikasi informasi langsung ke sumbernya.

Baca Versi Asli di DetikInet Teknologi →

Tinjauan Redaksi — DevNetCUK

BUKAN ISI BERITA ASLI  |  Sumber asli: DetikInet Teknologi

AI Bikin Petani Gagal Panen,10 Hektar Ladang Wijen Mati. — Dari sisi infrastruktur, setiap berita industri sebaiknya ditelaah dari 3 aspek penilaian: apakah berdampak pada keamanan, apakah berdampak pada skala/kapasitas, dan apakah berdampak pada SLA layanan. Gunakan 3 kriteria ini untuk menyaring agenda prioritas mingguan tim IT.

Iklan Sponsor / Advertisement

Bagikan Artikel Ini

Bagikan wawasan teknologi infrastruktur IT ini kepada tim & rekan kerja Anda.

Berita Terkait Lainnya

Lihat Semua Berita →
Ilmuwan Ungkap Bumi Bisa Layak Huni Meski Matahari Mati
TEKNOLOGI & IT

Ilmuwan Ungkap Bumi Bisa Layak Huni Meski Matahari Mati

Selama ini, ilmu pengetahuan meyakini Bumi akan hancur saat Matahari mencapai akhir hidupnya. Namun, penelitian terbaru menunjukkan kemungkinan berbeda.

Baca Selengkapnya →
Roblox Kehilangan Rp 1,2 Triliun, Penyebabnya Kurang Game Viral
TEKNOLOGI & IT

Roblox Kehilangan Rp 1,2 Triliun, Penyebabnya Kurang Game Viral

Nilai saham Roblox mengalami penurunan sebesar 70% selama setahun terakhir. Hal ini mengakibatkan nilainya di pasar turun sekitar Rp 1,2 triliun.

Baca Selengkapnya →
Bukan Uang, MacBook Pro dari Ayah Jadi Modal Amanda Bangun Usaha dari Nol
TEKNOLOGI & IT

Bukan Uang, MacBook Pro dari Ayah Jadi Modal Amanda Bangun Usaha dari Nol

Bukan uang ratusan juta, Amanda Mitsuri mendapat MacBook Pro dari sang ayah. Hadiah itu menjadi modal awalnya membangun usaha dari nol.

Baca Selengkapnya →