3 mnt baca (532 kata)
| |
INDUSTRI IT 12 August 2026, 14:00 WIB

Bocoran Ordal Ungkap Kondisi Kerja Bak Neraka di Raksasa Teknologi

Sumber Resmi: CNBC Indonesia Tech
DevNetCUK Tech Digest
Bocoran Ordal Ungkap Kondisi Kerja Bak Neraka di Raksasa Teknologi
Bocoran Ordal Ungkap Kondisi Kerja Bak Neraka di Raksasa Teknologi

Memoar Claire Stapleton, mantan karyawan Google, mengungkap pengalaman pahit di Big Tech. Simak selengkapnya!

Iklan Sponsor / Advertisement

Jakarta, CNBC Indonesia - Pada 2018 silam, sekitar 20.000 karyawan Google di seluruh dunia menggelar aksi walkout massal. Aksi ini memprotes penanganan kasus pelecehan seksual oleh eksekutif perusahaan serta serangkaian kebijakan internal yang dinilai tidak adil.

Aksi mogok massal tersebut dipimpin oleh Claire Stapleton, mantan spesialis komunikasi yang pernah dijuluki "Bard of Google" karena kepiawaiannya menyampaikan nilai-nilai perusahaan.

Namun, hanya enam bulan pasca-aksi tersebut, Stapleton memilih hengkang. Ia mengklaim mendapat tindakan balasan (retaliation) berupa demosi jabatan. Kisah perjalanannya-dari seorang loyalis yang terbuai mimpi besar teknologi hingga menjadi pengkritik tajam-kini dituangkan dalam memoar terbarunya berjudul Don't Be Evil: Bad Bosses, Fake Promises, and My Escape from Big Tech.

Dari "Tiket Emas" Menuju Budaya Beracun

Ketika pertama kali bergabung dengan Google pada 2007 usai lulus kuliah, Stapleton merasa seperti mendapat "tiket emas" di pabrik cokelat Willy Wonka. Kariernya melesat cepat hingga ia memegang peran penting dalam merancang citra publik Google.

Namun, pandangannya mulai goyah ketika dipindahkan ke Google Creative Lab di New York. Lingkungan tersebut ia gambarkan sebagai gabungan antara utopia dan distopia yang memaksakan paham "tekno-optimisme".

"Jika Anda menunjuk pada sebuah masalah, Anda-lah yang akan dijadikan masalahnya," ungkap Stapleton.

Ia menyoroti bagaimana moto terkenal Google, "Don't be evil", perlahan memudar. Budaya kerja yang dulunya ramah karyawan berubah menjadi beracun. Tolok ukur empati yang semula diagungkan justru dianggap sebagai kelemahan, sementara divisi Human Resources (HR) gagal melindungi pekerja dari kesewenang-wenangan manajemen.

Titik Balik: Era Kepemimpinan Larry Page

Stapleton mengidentifikasi perubahan besar Google terjadi pada 2011, saat Larry Page mengambil alih posisi CEO dari Eric Schmidt.

Meskipun Page mengusung narasi besar bahwa Google akan menyelesaikan masalah dunia, struktur organisasi justru membengkak secara birokratis.

  • Setiap eksekutif diberi tim komunikasi sendiri-sendiri.

  • Departemen pemasaran membesar secara drastis.

  • Perusahaan dinilai kehilangan fokus inovasi dan hanya sibuk mengejar kompetitor (seperti kegagalan Google+ demi menyaingi Facebook, atau proyek Google Glass).

    "Google berubah menjadi 'Borg' yang tambun dan birokratis. Tiba-tiba saja Google hanya ingin terlihat keren seperti Apple," tegasnya.

    Iklan Sponsor / Advertisement

    Duka di Tengah Tekanan Korporasi

    Di luar dinamika pekerjaan, Stapleton juga membuka kisah personal terkait kematian mendadak sang kakak, Scott, pada 2008 akibat kecelakaan sepeda motor. Saat itu, budaya kerja Google yang menuntut performa tinggi justru membuatnya melarikan diri ke dalam pekerjaan untuk menutupi rasa duka.

    Proses penulisan buku ini memaksa Stapleton untuk kembali menghadapi masa-masa kelam tersebut. Melalui penelusuran rekam jejak pesan lama sang kakak, ia akhirnya berhasil memproses dukanya secara utuh.

    Melalui buku ini, Stapleton berharap dapat membongkar ilusi industri Big Tech yang selama ini dicitrakan sebagai "pahlawan" perubahan sosial, sekaligus mendorong para pekerja teknologi untuk lebih kritis terhadap kekuatan korporasi besar.

    [Gambas:Video CNBC]
    Next Article Wabah Kecanduan Sudah Parah, 3.000 Kasus Masuk Pengadilan
Atribusi Sumber & Rujukan Editorial:

Artikel DevNetCUK ini disadur dan diberi konteks berdasarkan materi publikasi dari CNBC Indonesia Tech. Atribusi dan tautan asli dipertahankan untuk memudahkan pembaca memverifikasi informasi langsung ke sumbernya.

Baca Versi Asli di CNBC Indonesia Tech →

Tinjauan Redaksi — DevNetCUK

BUKAN ISI BERITA ASLI  |  Sumber asli: CNBC Indonesia Tech

Bocoran Ordal Ungkap Kondisi Kerja Bak Neraka di Raksasa Teknologi. — Dari sisi infrastruktur, setiap berita industri sebaiknya ditelaah dari 3 aspek penilaian: apakah berdampak pada keamanan, apakah berdampak pada skala/kapasitas, dan apakah berdampak pada SLA layanan. Gunakan 3 kriteria ini untuk menyaring agenda prioritas mingguan tim IT.

Iklan Sponsor / Advertisement

Bagikan Artikel Ini

Bagikan wawasan teknologi infrastruktur IT ini kepada tim & rekan kerja Anda.

Berita Terkait Lainnya

Lihat Semua Berita →
Ilmuwan Ungkap Bumi Bisa Layak Huni Meski Matahari Mati
TEKNOLOGI & IT

Ilmuwan Ungkap Bumi Bisa Layak Huni Meski Matahari Mati

Selama ini, ilmu pengetahuan meyakini Bumi akan hancur saat Matahari mencapai akhir hidupnya. Namun, penelitian terbaru menunjukkan kemungkinan berbeda.

Baca Selengkapnya →
Roblox Kehilangan Rp 1,2 Triliun, Penyebabnya Kurang Game Viral
TEKNOLOGI & IT

Roblox Kehilangan Rp 1,2 Triliun, Penyebabnya Kurang Game Viral

Nilai saham Roblox mengalami penurunan sebesar 70% selama setahun terakhir. Hal ini mengakibatkan nilainya di pasar turun sekitar Rp 1,2 triliun.

Baca Selengkapnya →
Bukan Uang, MacBook Pro dari Ayah Jadi Modal Amanda Bangun Usaha dari Nol
TEKNOLOGI & IT

Bukan Uang, MacBook Pro dari Ayah Jadi Modal Amanda Bangun Usaha dari Nol

Bukan uang ratusan juta, Amanda Mitsuri mendapat MacBook Pro dari sang ayah. Hadiah itu menjadi modal awalnya membangun usaha dari nol.

Baca Selengkapnya →