3 mnt baca (568 kata)
| |
INDUSTRI IT 10 August 2026, 05:35 WIB

China Balas Dendam Makin Kejam, Amerika Sekarang Kena Batunya

Sumber Resmi: CNBC Indonesia Tech
DevNetCUK Tech Digest
China Balas Dendam Makin Kejam, Amerika Sekarang Kena Batunya
China Balas Dendam Makin Kejam, Amerika Sekarang Kena Batunya

Ketegangan dagang AS-China meningkat. China melarang transaksi dan kontrol ketat pada teknologi drone dan lembaga sertifikasi AS.

Iklan Sponsor / Advertisement
Presiden China Xi Jinping memperlihatkan suasana kompleks bersejarah Zhongnanhai kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai pembicaraan mengenai perdagangan, Taiwan, dan Iran, Jumat (15/5/2026). (REUTERS/Evan Vucci/Pool)
Foto: Presiden China Xi Jinping memperlihatkan suasana kompleks bersejarah Zhongnanhai kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai pembicaraan mengenai perdagangan, Taiwan, dan Iran, Jumat (15/5/2026). (REUTERS/Evan Vucci/Pool)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan perang dagang dan teknologi antara dua raksasa ekonomi dunia kembali memanas. China resmi melayangkan aksi balasan terhadap Amerika Serikat (AS) melalui rentetan kebijakan ketat yang menyasar perusahaan, teknologi drone, hingga lembaga sertifikasi asal Negeri Paman Sam.

Langkah tegas ini diambil Beijing sebagai respons langsung atas manuver terbaru Washington yang kian gencar memperketat ruang gerak industri teknologi Tiongkok.

Kementerian Perdagangan China secara resmi melarang seluruh organisasi maupun individu di dalam negeri untuk bertransaksi dan berbisnis dengan tujuh entitas strategis asal AS. Tak berhenti di situ, Negeri Tirai Bambu ini juga memperketat kontrol ekspor drone beserta teknologi pendukungnya yang ditujukan ke pasar AS, serta membatasi peran lembaga sertifikasi Amerika dalam inspeksi pabrik di Tiongkok.

Kebijakan balasan ini dipicu oleh tindakan Washington yang sebelumnya memberlakukan pembatasan baru terhadap operator telekomunikasi, laboratorium pengujian, router konsumen, kabel bawah laut, hingga peralatan robotika canggih asal China. Situasi kian keruh setelah pekan lalu AS memasukkan lebih dari 40 entitas China ke dalam daftar sanksi Uyghur Forced Labor Prevention Act.

"Ini adalah langkah balasan, dan bukan sesuatu yang mengejutkan. Beijing telah menghabiskan beberapa bulan terakhir untuk membangun perangkat langkah-langkah balasan mereka," ujar Managing Director Ankura China di Beijing, Alfredo Montufar-Helu, dikutip dari Reuters beberapa saat lalu.

Sasar Lembaga Sertifikasi hingga Isu Hak Asasi

Salah satu entitas utama yang masuk dalam 'daftar hitam' China adalah Compliance Testing LLC, perusahaan pengujian dan sertifikasi yang berbasis di Mesa, Arizona. Beijing menuding perusahaan tersebut ikut memuluskan langkah Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) dalam merugikan kepentingan sah perusahaan-perusahaan China.

Selain Compliance Testing LLC, sanksi serupa dijatuhkan kepada enam entitas AS lainnya:

  • Applied DNA Sciences

  • Stratum Reservoir

  • Altana Technologies

  • Responsible Business Alliance

  • Verité Group

  • Human Rights in China

    Ketujuh organisasi ini dituduh Beijing mendukung sanksi AS terkait isu Xinjiang, terutama yang bergerak di bidang pelacakan rantai pasok, penilaian risiko tenaga kerja, dan advokasi hak asasi manusia. Meski demikian, pemerintah China belum menerapkan pembekuan aset atau larangan perjalanan terhadap entitas-entitas tersebut.

    Iklan Sponsor / Advertisement

    Pasokan Drone dan Inspeksi Pabrik Terancam Melambat

    Di sektor teknologi penerbangan tanpa awak, Tiongkok mulai memperketat keran pengawasan ekspor drone, komponen utama, serta teknologi terkait yang ditujukan ke AS. Setiap pengiriman kini wajib melalui peninjauan kasus per kasus tanpa adanya jalur perizinan cepat (fast-track). Langkah ini diprediksi bakal memperlambat rantai pasok barang-barang berteknologi dual-use (penggunaan ganda) ke AS.

    Guna makin menekan pihak AS, Beijing turut menangguhkan izin bagi lembaga-lembaga berbasis di Amerika untuk melakukan inspeksi pabrik dalam sistem sertifikasi wajib Tiongkok (China Compulsory Certificate). Kebijakan ini berpotensi memicu pembengkakan biaya operasional hingga penundaan proses manufaktur bagi perusahaan-perusahaan AS yang beroperasi di Tiongkok.

    [Gambas:Video CNBC]
Next Article China Kasih Peringatan Keras ke Amerika, Ancam Pembalasan Penuh
Atribusi Sumber & Rujukan Editorial:

Artikel DevNetCUK ini disadur dan diberi konteks berdasarkan materi publikasi dari CNBC Indonesia Tech. Atribusi dan tautan asli dipertahankan untuk memudahkan pembaca memverifikasi informasi langsung ke sumbernya.

Baca Versi Asli di CNBC Indonesia Tech →

Tinjauan Redaksi — DevNetCUK

BUKAN ISI BERITA ASLI  |  Sumber asli: CNBC Indonesia Tech

China Balas Dendam Makin Kejam, Amerika Sekarang Kena Batunya. — Dari sisi infrastruktur, setiap berita industri sebaiknya ditelaah dari 3 aspek penilaian: apakah berdampak pada keamanan, apakah berdampak pada skala/kapasitas, dan apakah berdampak pada SLA layanan. Gunakan 3 kriteria ini untuk menyaring agenda prioritas mingguan tim IT.

Iklan Sponsor / Advertisement

Bagikan Artikel Ini

Bagikan wawasan teknologi infrastruktur IT ini kepada tim & rekan kerja Anda.

Berita Terkait Lainnya

Lihat Semua Berita →
DPR-Pemerintah Gelar Rapat Finalisasi Perpres Ojol
INDUSTRI IT

DPR-Pemerintah Gelar Rapat Finalisasi Perpres Ojol

Pemerintah dan DPR menggelar rapat koordinasi untuk membahas Perpres Ojol dan isu gaji pegawai PPPK. Rapat dihadiri sejumlah menteri dan wakil ketua DPR.

Baca Selengkapnya →
Profesi Tercela Ini Terancam Punah, Penggantinya Jauh Lebih Jahat
INDUSTRI IT

Profesi Tercela Ini Terancam Punah, Penggantinya Jauh Lebih Jahat

Penelitian menunjukkan AI kini lebih efektif menipu manusia dibanding penipu tradisional.

Baca Selengkapnya →
Deretan Game yang Dipamerkan Level Infinite di Gamescom 2026
TEKNOLOGI & IT

Deretan Game yang Dipamerkan Level Infinite di Gamescom 2026

Level Infinite mengumumkan akan hadir di Gamescom 2026. Mereka menyiapkan sejumlah game yang akan dipamerkan di salah satu festival game terbesar di dunia.

Baca Selengkapnya →