Jakarta — Fenomena El Nino yang belum pernah terlihat sebelumnya terbentuk di Pasifik. Peningkatan kekuatannya luar biasa sehingga ilmuwan tak yakin dampak yang ditimbulkan ketika mencapai puncaknya.
El Nino adalah fenomena iklim yang ditandai suhu lautan lebih hangat di seluruh Samudra Pasifik tropis tengah dan timur, memicu efek domino yang berpengaruh luas terhadap cuaca dunia. Ini adalah bagian dari tiga fase setiap beberapa tahun: El Nino (fase hangat), La Nina (fase dingin), dan ENSO-Netral.
Ilmuwan mengumumkan kemunculan El Nino ketika suhu permukaan laut di Pasifik naik setidaknya 0,5 derajat C di atas rata-rata jangka panjang. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mengumumkan kita telah melewati ambang batas ini awal Juni.
Namun, El Nino kali ini terus mengumpulkan kekuatan dengan kecepatan luar biasa. Minggu pertama Agustus, suhu Pasifik bagian timur berada 2,6 derajat C di atas batas normal. Jika terus meningkat, kita akan menghadapi salah satu fase El Nino terpanas yang pernah tercatat.
"Sebagai gambaran, apa pun yang berada di atas 2 derajat C dianggap sebagai 'El Nino super'. Jadi, setidaknya untuk suhu harian, kita sudah berada jauh di kategori El Nino yang sangat kuat atau 'El Nino super'," ujar Zeke Hausfather, ilmuwan iklim Berkeley Earth yang dikutip detikINET dari IFL Science, Selasa (11/8/2026).
Perbandingan terbaik adalah El Nino pemecah rekor 1997/98, peristiwa terkuat dalam ingatan sejarah yang merugikan ekonomi global triliunan dolar dan menewaskan ribuan orang. Namun El Nino tahun ini melaju mendahului lintasan tahun tersebut.
"Kita belum pernah mengalami El Nino yang mendekati kekuatan ini sebelumnya. Kita benar-benar berada di teritori yang belum terpetakan," jelas Hausfather. Sebagian besar model menunjukkan El Nino saat ini akan terus menjadi yang terkuat dalam sejarah dan diprediksi memuncak akhir 2026.
Dampak global
Semua ini diproyeksikan akan memberikan dampak mendalam pada iklim dan cuaca dunia. Efek paling signifikan dari El Nino adalah peningkatan suhu global, yang berujung pada gelombang panas lebih sering, terganggunya hujan, dan peningkatan risiko kekeringan di beberapa wilayah yang dibarengi banjir parah di wilayah lain.
"Di Pasifik tropis, kita cenderung mengalami kondisi lebih kering. Indonesia, Asia Tenggara, Australia Timur, Afrika bagian Selatan, Amazon Utara, dan India cenderung jadi lebih kering dan memiliki angin monsun yang lebih lemah. Dari semua efek El Nino, hal-hal itulah yang mungkin paling saya khawatirkan karena berdampak besar pada pertanian," catat Hausfather.
Dampak-dampak ini terlihat jelas pada peristiwa El Nino 1997/1998, di mana ribuan orang meninggal akibat banjir, kekeringan, kelaparan, kebakaran, panas ekstrem, dan wabah.
Fenomena ini juga kemungkinan akan memicu pemutihan karang pemecah rekor di seluruh dunia. Peristiwa pemutihan karang serempak secara global pertama terjadi tahun 1998, bertepatan dengan El Nino kuat.
Belum bisa dipastikan apakah tahun 2026 sama fatal seperti 1997/1998 karena ilmuwan belum memiliki banyak gambaran bagaimana peristiwa ini berlanjut.
"Saya tidak ingin menyebar kepanikan berlebihan, tapi saya pikir kita harus bersiap dari sekarang untuk menghadapi sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya," kata Hausfather.
"Saya harap berbagai negara, terutama di daerah tropis, mempersiapkan diri menghadapi penurunan hasil panen dan dampak bawaannya. Saya rasa kita tidak boleh lengah, terutama karena peristiwa ini berada jauh di luar dari apa pun yang pernah kita alami sebelumnya," tambahnya.
Alasan lain mengapa sulit membuat perbandingan dengan El Nino 1997/1998 adalah Bumi adalah tempat berbeda jika mundur 28 tahun lalu. Pada 2026, Bumi jauh lebih hangat terkait perubahan iklim.
"Tahun 1998 memecahkan rekor suhu terpanas saat itu. Jika suhu tersebut terjadi hari ini, justru akan terasa sangat dingin," lanjut Hausfather.