4 mnt baca (620 kata)
| |
INDUSTRI IT 11 August 2026, 04:45 WIB

Pangeran Arab Mau Tarik Gunung Es dari Kutub ke Timur Tengah

Sumber Resmi: CNBC Indonesia Tech
DevNetCUK Tech Digest
Pangeran Arab Mau Tarik Gunung Es dari Kutub ke Timur Tengah
Pangeran Arab Mau Tarik Gunung Es dari Kutub ke Timur Tengah

Pangeran Arab Saudi berniat menarik gunung es dari kawasan kutub ke Timur Tengah supaya banyak air.

Iklan Sponsor / Advertisement
Kapal pemecah es Italia Laura Bassi membawa para ilmuwan yang meneliti di Antartika, berlayar di dekat Teluk Wales, Antartika dalam foto yang diperoleh Reuters pada 31 Januari 2023. (PNRA/Handout via REUTERS)
Foto: Kapal pemecah es Italia Laura Bassi membawa para ilmuwan yang meneliti di Antartika, berlayar di dekat Teluk Wales, Antartika dalam foto yang diperoleh Reuters pada 31 Januari 2023. (via REUTERS/PNRA)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pangeran Arab Saudi, Mohammed bin Faisal, pernah punya rencana unik untuk mengatasi persoalan air di Timur Tengah. Bukan dengan mengebor sumber air baru atau membangun lebih banyak instalasi desalinasi, melainkan dengan menarik gunung es dari kawasan kutub ke Timur Tengah.

Gagasan tersebut disampaikan Mohammed pada 1977 ketika menyelenggarakan Konferensi Internasional Pertama tentang Pemanfaatan Gunung Es di Iowa State University, Ames, Iowa, Amerika Serikat.

Untuk menunjukkan pemanfaatan gunung es bukan sekadar angan-angan, Mohammed membawa bongkahan gletser berusia 4.000 tahun dari Alaska ke lokasi konferensi. Bongkahan seberat 2 ton itu diambil oleh tim penyelam Angkatan Laut AS dengan menggunakan helikopter, pesawat, hingga truk sampai tiba di Iowa.

Bongkahan es kemudian digunakan untuk mendinginkan minuman para delegasi yang tiba pada 2 Oktober 1977. Dalam laporan Times, Mohammed meyakini gunung es dapat menjadi sumber air tawar alternatif yang lebih murah dibandingkan desalinasi air laut.

Soalnya, setiap tahun, terjadi pelepasan alami gunung es dari lapisan es utama di Antarktika dan Greenland. Agar tidak sia-sia, air tawar itu dapat dimanfaatkan sebelum bercampur dengan air laut. 

Supaya bisa terwujud, Mohammed berani menggelontorkan biaya mencapai sekitar US$90 juta yang dapat selesai dalam waktu 3-5 tahun. Namun, gagasan tersebut langsung mendapat keraguan dari sejumlah ilmuwan yang hadir dalam konferensi.

"Begitu Anda melewati garis khatulistiwa ke arah utara, yang tersisa di ujung tali penarik Anda hanyalah seutas tali saja," kata Wilford Weeks dari Laboratorium Penelitian dan Rekayasa Wilayah Dingin Angkatan Darat AS, dikutip Time.

Pernyataan tersebut menggambarkan salah satu persoalan terbesar dalam rencana itu. Gunung es harus melewati perairan yang jauh lebih hangat dibandingkan lingkungan asalnya di Antarktika atau Kutub Selatan. Tanpa perlindungan yang memadai, es akan terus mencair selama perjalanan.

Persoalan lain adalah bagaimana menarik benda dengan bobot puluhan juta ton sejauh ribuan kilometer. Kapal tunda yang tersedia saat itu belum mampu melakukan pekerjaan tersebut secara efektif.

Pada akhirnya, rencana Mohammed tidak pernah terwujud. Tidak ada gunung es Antarktika raksasa yang berhasil ditarik hingga Arab Saudi. Meski demikian, gagasan tersebut tidak sepenuhnya menghilang.

Dalam laporan Science Blog, insinyur Prancis Georges Mougin, yang terlibat dalam pengembangan konsep penarikan gunung es, terus mempelajari kemungkinan tersebut selama puluhan tahun. Perkembangan teknologi komputer dan tersedianya data arus laut yang lebih baik kemudian memungkinkan simulasi yang lebih canggih.

Iklan Sponsor / Advertisement

Pada 2011, Mougin kembali mempresentasikan simulasi mengenai kemungkinan membawa gunung es melalui laut. Hasilnya menunjukkan bahwa perkembangan teknologi membuat proyek tersebut lebih memungkinkan dibanding pada era 1970-an, meski tetap menghadapi risiko dan biaya yang besar.

Gagasan serupa juga kembali muncul ketika sejumlah wilayah mengalami krisis air. Pada 2018, misalnya, muncul proposal untuk menarik gunung es Antarktika ke Afrika Selatan di tengah krisis air Cape Town. Proposal lain juga pernah diarahkan ke Uni Emirat Arab.

Namun, hingga kini belum ada proyek penarikan gunung es raksasa yang benar-benar diwujudkan untuk memasok air ke Timur Tengah maupun wilayah lain di dunia.

(mfa)
Atribusi Sumber & Rujukan Editorial:

Artikel DevNetCUK ini disadur dan diberi konteks berdasarkan materi publikasi dari CNBC Indonesia Tech. Atribusi dan tautan asli dipertahankan untuk memudahkan pembaca memverifikasi informasi langsung ke sumbernya.

Baca Versi Asli di CNBC Indonesia Tech →

Tinjauan Redaksi — DevNetCUK

BUKAN ISI BERITA ASLI  |  Sumber asli: CNBC Indonesia Tech

Pangeran Arab Mau Tarik Gunung Es dari Kutub ke Timur Tengah. — Dari sisi infrastruktur, setiap berita industri sebaiknya ditelaah dari 3 aspek penilaian: apakah berdampak pada keamanan, apakah berdampak pada skala/kapasitas, dan apakah berdampak pada SLA layanan. Gunakan 3 kriteria ini untuk menyaring agenda prioritas mingguan tim IT.

Iklan Sponsor / Advertisement

Bagikan Artikel Ini

Bagikan wawasan teknologi infrastruktur IT ini kepada tim & rekan kerja Anda.

Berita Terkait Lainnya

Lihat Semua Berita →
Meta Rilis Muse Glimmer, Model AI Bisa Beroperasi Tanpa Internet
CYBER SECURITY

Meta Rilis Muse Glimmer, Model AI Bisa Beroperasi Tanpa Internet

Meta merilis Muse Glimmer, model AI yang dapat dijalankan di PC tanpa internet. Dirancang untuk pengembang, model ini mendukung berbagai tugas kompleks.

Baca Selengkapnya →
Wabah Kecanduan Sudah Parah, 3.000 Kasus Masuk Pengadilan
INDUSTRI IT

Wabah Kecanduan Sudah Parah, 3.000 Kasus Masuk Pengadilan

Lebih dari 3.000 gugatan diajukan di AS terhadap raksasa media sosial, menuduh mereka merancang platform yang membuat anak kecanduan.

Baca Selengkapnya →
YouTube Persulit Syarat Dapat Uang, Watch Time Naik Dua Kali Lipat
TEKNOLOGI & IT

YouTube Persulit Syarat Dapat Uang, Watch Time Naik Dua Kali Lipat

YouTube menaikkan syarat monetisasi mulai Februari 2027. Kreator baru harus punya 8.000 jam tayang atau 20 juta Shorts views untuk masuk YPP.

Baca Selengkapnya →